DAGISUBU 2
Pharmaceutical & Healthcare

ABCD Tentang DAGUSIBU


DAGUSIBU? Apa sih itu. Penting gak buat diketahui?

Obat adalah komoditi kesehatan yang sangat familiar di masyarakat. Obat bahkan lebih terkenal dari Raisa. Karena sampai ke pelosok Indonesia, mereka pasti tau obat tapi belum tentu tau Raisa.

Bukan hanya orang dewasa, bahkan anak-anak balita pun sangat familiar dengan produk kesehatan ini. Tak mengherankan jika obat menjadi salah satu produk yang mendatangkan pendapatan tinggi untuk negara.

Tapi, sekian lama seseorang bersentuhan dengan obat, nyatanya masih banyak sekali masyarakat yang belum benar-benar mengenal obat, sehingga sering memperlakukan obat tidak sebagaimana mestinya. Banyak masyarakat masih mengabaikan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh tenaga kesehatan, tentang penggunaan obat yang benar. Brosur obat yang sering berada di kotak obat pun tak pernah benar-benar disentuh, dilihat, dibaca apalagi disayang, justru lebih sering diabaikan bagi kebanyakan orang, padahal brosur tersebut gak salah apa-apa.

Dagusibu 1

Di pertemuan Gathering Jurnalis dan Blogger Sabtu 29 September 2018 yang lalu, IAI, IYPG dan Kemenkes bersama-sama mensosialisasikan tentang cara bijak menggunakan obat kepada para Jurnalis dan Blogger, yang dianggap sebagai profesi yang bisa menjadi lalu lintas sebuah berita dan edukasi. Di acara tersebut, hadir pula Mbak Indri Mulyani, S.Farm., Apt sebagai pembicara.

Ngomong-ngomong soal Mbak Indri ini, dia adalah seorang Apoteker teladan. Dia juga pernah bersama-sama menempuh pendidikan Apoteker bersama saya di Universitas Indonesia. Beda dia ama saya adalah dia Apoteker Teladan sedangkan saya punya temen yang Apoteker Teladan.

DAGUSIBU – Dapatkan Gunakan Simpan dan Buang

DA-GU-SI-BU, istilah ini sudah sering terdengar di kalangan tenaga kesehatan sejak beberapa tahun ke belakang. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) sendiri sudah sering mengadakan campaign soal DAGUSIBU ini. Awal dengar istilah ini, saya langsung mencari tahu, tapi gak lantas bertindak menyebarluaskan, karena bagi saya cukup tahu saja itu sudah lebih bagus, gak mau ikut campur lebih jauh.

mbak indri Tapi, entah kenapa pas ketemu Mbak Indri dan dia maparin soal DAGUSIBU ini lebih detail, seolah jiwa Apoteker Teladannya Mbak Indri itu merembet ke saya, yang membuat saya jadi merasa bertanggung jawab untuk membantu mensosialisasikan tentang apa itu DAGUSIBU ke masyarakat. Bener kata quote-quote, kita disuruh banyak gaul ama orang pinter, supaya bisa ikut pinter. Padahal ketemu Mbak Indri cuma bentaran, tapi saya ngerasa pinternya Mbak Indri dan Saya sekarang cuma beda seangin. Saya doang yang ngerasa begitu tapinya. Iya, gapapa!

Walaupun mengajak masyarakat minum obat dengan benar lebih susah dibanding ngajak masyarakat rame-rame ngefollow instagramnya Lambe Turah, Tante Rempong, Lambe Nyinyir dan teman-temannya yang sejenis, tapi saya yakin kalo sosialisasi DAGUSIBU ini dilakukan secara kontiniu, setahun atau dua tahun lagi masayarakat mulai cerdas menggunakan obat.

(Da)patkan Obat dengan Benar

DAGUSIBU yang pertama adalah “Dapatkan Obat dengan benar”

Obat yang Dapat Dibeli tanpa Resep Dokter

Kalau ditanya beli obat susah apa nggak, jawabannya mesti macem-macem. Kalau obat sakit kepala, sakit gigi, diare, maag tinggal dateng aja ke warung samping rumah, bilang obat yang dibutuhin selesai. Jangan tanya pemilik warung soal bagaimana cara pakainya, apa efek sampingnya, ada kontraindikasinya apa nggak, pemilik warung gak akan jawab itu. Yang dia tau uang kembaliannya mau dijadiin permen atau kacang sukro.

Nah, kalau di warung stok kosong, bisa juga ngelangkah ke toko obat, Alfa atau Indo Mart. Disini jenis obatnya lebih banyak. Gak enaknya beli obat di supermarket adalah, niatnya ke sana mau beli obat doang, tapi yang dibawa pulang ada obat, minuman, chiki, coklat, minyak goreng, es krim, dll. Bawa duit ceban atau bawa duit goban, sama aja abisnya. Paling kembaliannya diminta sumbangan ama si kasir.

Nah, obat yang bisa didapatkan di warung atau supermarket ini, biasanya berlogo hijau atau dikenal dengan obat bebas atau ada juga yang ada sebagian yang berlogo biru dikenal sebagai obat bebas terbatas. Obat-obat ini bisa dibeli tanpa menggunakan resep dokter. Karena obat ini bisa didapatkan dengan bebas, konsumen mesti jeli melihat kondisi obat. Untuk obat bebas, beberapa informasi ini penting diperhatikan:

1. Kemasan dalam kondisi baik dan utuh
Jika tablet di dalam blister, maka blister itu tidak dalam keadaan lembab ataupun robek terbuka. Jika obat dalam bentuk sirup, pastikan botol sirup masih tersegel baik.

2. Perhatikan kelengkapan informasi obat dalam kemasan
Ayah Bunda, obat bebas wajib mencantumkan informasi obat mereka di kemasan dengan lengkap, jika dalam bentuk sirup wajib juga memberikan brosur di dalamnya. Jadi kalo ada obat yang nggak mencantumkan infonya dengan jelas, say good bye aja ya bun, mungkin produsennya kurang percaya diri.

3. Perhatikan tanggal kadaluarsa
Ingat, di dalam kemasan tercantum dua buah tanggal, yaitu tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa. Tolong dibaca dengan seksama. Jangan sampai kita merong-merong ke Apotek karena salah baca, dikira udah ED taunya itu obat masih fresh from the oven. Obat kadaluarsa biasanya efek terapinya sudah hilang dan bahkan sudah mengalami perubahan sifat secara kimiawi.

4. Nomor Registrasi
Nah, yang ini nih yang suka diabaikan. Beli obat itu gak sama kayak beli donat di pasar. Perlu banget kita tau bahwa obat ini terdaftar. Apalagi obat-obat yang bersifat herbal. Jangan sampe udah abis berbotol botol, uang yang keluar udah banyak, taunya tu obat gak terdaftar resmi di BPOM. Syukur-syukur gak ngalami efek samping.

Obat yang Dibeli Harus Dengan Resep Dokter

Jangan coba-coba datang ke Apotek dan bilang mau beli Ciprofloksasin atau Codein, tanpa bawa resep dokter, Kita bakalan disuruh pulang ama petugas di Apotek. Obat-obat yang masuk ke dalam daftar obat keras, narkotik dan psikotropik wajib dibeli dengan resep dokter.

“Ah, di Apotek sebelah kali mau kok ngasih antibiotik gak pake resep!”

Kalau ada Apotek yang begini, berarti kita sedang berhadapan ama Apotek yang gak paham aturan dan gak bertanggung jawab. Catet aja nama Apotekernya, biar diedukasi ama Pak Nurul Falah ketua IAI. Jangan-jangan nanti kalo kita mengalami efek samping akibat obat tersebut, Apotek cuci tangan cuci kaki langsung bobo.

“Ah, tapi kalo mesti ke dokter, ntar malah dikasih obat bermerek yang harganya bisa bikin kita gak mood sepanjang hari dan batal belanja onlen!”

Konsumen punya hak loh untuk dibuatkan resep obat generik, tinggal komunikasikan aja ama dokternya. Atau, kita juga bisa komunikasi dengan petugas Apotek saat menebus resep, minta diberikan obat generik. Apotek profesional biasanya bisa mengomuniaksikan hal ini kepada dokter si pemberi resep, karena bagaimanapun itu adalah hak konsumen. Atau kalo emang cemas dengan mahalnya harga obat, bisa kok periksa ke dokter di Puskesmas, siapa bilang berobat di puskesmas bikin gak sembuh.

Oya untuk menebus obat resep ini tetap perhatikan kemasan obat yang diterima ya. Jangan lupa juga perhatikan etiket obat. Obat dalam menggunakan etiket putih dan obat luar etiket biru. Kalo sampe kita beli salep etiketnya putih, dikembalikan ke Apoteknya. Mungkin petugasnya lagi kurang minum aqua.

(Gu)nakan Obat Dengan Benar

DAGUSIBU selanjutnya adalah Gunakan obat dengan benar.

Nah, setelah kita pulang ke rumah dengan obat di tangan, saatnya mengonsumsi obat tersebut di rumah. Iya, memang kita beli obat itu pake uang kita sendiri dan gak ngerepotin orang lain, tapi bukan berarti kita semena-mena mengonsumsi obat tersebut.

“Lah…obat-obat saya, yang beli saya, mau saya minum sebelum makan kek, dicampur ayam geprek level 10 kek, ditelen barengan ama cilok kek atau makannya sambil jungkir balik kek, terserah saya!”

Plisss…jangan ada terbesit statemen kesombongan itu di hati kita, ya! Makan kuaci aja ada aturannya, yang boleh dimakan isinya, kulitnya dibuang, kalo salah bikin sakit tenggorokan. Apalagi minum obat.

Nah, ini beberapa aturan minum obat yang penting buat diketahui:

1.Baca aturan pakai sebelum minum obat
Pada obat bebas, aturan pakain ini tertulis di kemasannya, berapa kali sehari diminumnya dan takarannya berapa banyak. Pada obat resep, aturan pakai ini akan ditulis di etiket obat. Gunakan obat berdasarkan aturan pakai. Phueleess, gak perlu jadi kreative dalam hal ini.

“Aishh…ini mungkin karena umunya orang Indonesia biasanya makan 3 x sehari, jadi dokter nulisnya 3 kali sehari setelah makan. Untuk saya yang biasa makan 6 kali sehari, pasti minum obatnya juga harus bertambah.”

Jangan sejauh ini berprasangka buruk sama dokter, yes!

2. Gunakan Obat Sesuai Aturan

    maddog minum obat

  • Dosis yang tepat
    Kalo disuruhnya pakai sendok takar, jangan sok jagoan kayak Maddog dengan minum pake sendok semen biar greget, oke! Di sendok takar itu udah ada ukuran yang pasnya, apakah 5 ml, atau 10 ml atau 15 ml.
  • Rentang waktu penggunaan obat
    Khusus untuk obat-obat antibiotik, dia punya aturan yang ketat untuk rentang waktu penggunaanya. Biasanya 3 kali sehari dengan rentang setiap 8 jam. Pastikan kita gak minum sesuka hati atau menyesuaikan kesibukan kita. Jangan sekarang minum, terus baru dua minggu kemudian minum lagi.

    “Jika kita lupa mengonsumsi antibiotik tersebut di satu waktu, maka ketika ingat langsung diminum, lalu berikan jarak beberapa jam dengan waktu minum selanjutnya.” Kata Mbak Indri Mulyani saat menjelaskan di sesi tanya jawab.

    Tapi, jangan sampe lupanya terus-terusan. Kalo keseringan lupa, kita wajib periksa ke dokter, jangan-jangan kita ada gejala demensia dini.

  • Lama Penggunaan obat
    Untuk obat-obat antibiotik, umumnya diberikan dalam rentang waktu 3-5 hari, atau sesuai petunjuk dokter. Obat wajib dihabiskan. Nah untuk bahaya ketika kita tidak taat aturan mengonsumsi antibiotik, bisa dilihat di artikel tentang ABCD Bahaya Resistensi Antibiotik ini!

    Sedangkan untuk obat-obat yang sifatnya simptomatik, atau untuk mengurangi gejala, obat bisa dihentikan ketika gejala penyakit yang dirasakan sudah hilang. Misal kalau demamnya hilang, obat tidak perlu diteruskan.

  • Cara mengonsumsi obat
    Bahwasannya setiap aturan itu dibuat berdasarkan research adalah benar, makanya tolong ditaati jika kita ingin mendapatkan efek terapi yang diinginkan. Ada obat yang harus dikonsumsi sebelum makan, jangan sampe diminum setelah makan. Ada obat yang harus dikonsumsi pagi hari, jangan dikonsumsi pas mau tidur. Ada obat yang harus dikunyah dulu, jangan diisep, ada juga obat yang dimasukan via dubur, jangan dicampur bubur.

3. Kenali Efek Samping Obat
Jika saat mengonsumsi obat kita mengalami efek samping yang tidak diinginkan, hentikan penggunaan obat dan segera datang ke pusat layanan ke sehatan.

4. Tidak menggunakan obat orang lain
Nah ini juga penting, bukan karena itu saudara kita, orang tua kita atau sahabat kita, lantas kita jadi begitu dermawannya bagi-bagi obat ke mereka, gak semua harus berbagi, untuk obat, biarlah itu menjadi urusan masing-masing. kecuali obat-obat bebas yang tujuannya hanya simptomatik, tapi inipun sebaiknya dihindari, karena kita kadang lupa cek apakah obat yang kita bagi tersebut masih baik atau sudah rusak.

Untuk obat keras, sekalipun gejalanya sama, pastikan kita ke dokter untuk mendapatkan resep sesuai diagnosa penyakit kita masaing-masing.

(Si)mpan Obat Dengan Benar

DAGUSIBU yang ketiga adalah Simpan obat dengan benar.

Dapetinnya udah bener, minumnya juga udah bener, eh pas nyimpen malah salah. Akibatnya pas obat mau dipakai malah gak ada khasiatnya. Lebih buruknya malah obat tersebut udah rusak, sehingga menimbulkan masalah baru saat dikonsumsi seperti diare dan sebagainya.

Nah, untuk penjelasannya ini karena panjang, saya pake bantuan infografisnya Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) di bawah ini, ya!

penyimpanan obat DAGUSIBU

penyimpanan obat 2 DAGUSIBU

Oya, satu hal yang sering banget terjadi, ibu-ibu yang nyimpen obat demam dan obat batuk anaknya yang berbentuk sirup di freezer, mungkin dengan alasan biar lebih awet atau biar lebih seger pas diminum. Ini gak perlu terjadi lagi ya Bun, simpen aja di tempat sejuk dan kering dalam kondisi tertutup rapat dan bersih. “Ini obat bun, bukan sirop marjan, gak perlu seger-seger pas diminum!”

Satu lagi, penting juga diingat untuk menyimpan obat di rumah sendiri, jangan di rumah teman atau sodara cuma karena mereka bunya kotak penyimpanan obat yang cakep. Ntar kita bingung pas butuh harus ke rumah mereka dulu, malah ngerepotin. Lebih baik kita membuat kotak penyimpanan obat sederhana sendiri dan menyimpan obat kita di rumah sendiri, sehingga kita bisa tahu obat ini selalu dalam keadaan baik-baik aja, gak kurang satu atau apapun.

(Bu)ang Obat Dengan Benar

DAGUSIBU yang terakhir adalah, bagaimana cara membuang obat dengan benar.

Banyak sekali orang yang mengabaikan hal ini, karena dianggap bukan lagi barang berharga sehingga bisa dimusnahkan dengan tanpa aturan. Padahal, membuang obat tidak sesuai aturan, sangat membahayakan lingkungan.

Ini beberapa point penting tentang cara membuang obat:

  • Pisahkan obat dari kemasan
    In Syaa Allah mereka ridho kok kalau pun harus dipisahkan untuk kemashlahatan umat, jadi kita jangan sampe ga enakan!
  • Lepaskan etiket dan tutup kemasan dari wadah kemasan.
  • Buang kemasan obat setelah terlebih dahulu digunting dengan perasaan. Kalo ada yang lagi bakar sampah, bisa juga sekalian dibakar. Ini kemasan jangan sampe dijadiin mainan kapal-kapalan buat anak, walau warnanya bagus. Beliin aja anak kertas origami, yes!
  • Untuk obat dalam bentuk tablet, hancurkan dulu sebelum dibuang.
  • Untuk isi obat sirup non antibiotik, buang di saluran pembuangan air setelah diencerkan dan hancurkan botolnya sebelum dibuang ke tempat sampah.
  • Kalo ada sisa antibiotik cair (kebiasaan yang minum antibiotik gak abis) jangan sampe dibuang di saluran air, bahaya buat mikroorganisme yang ada disana, dan bisa meningkatkan resistensi mikroba terhadap antibiotik. Caranya adalah dengan diencerkan dahulu, lalu masukan kedalam plastik dan tutup rapat. Baru buang ke tempat pembuangan.
  • Tube harus dibuat hancur sebelum dibuang, dan terpisah dari tutupnya.
  • Jarum suntik harus dibuang dalam keadaan sudah dirusak dan dalam keadaan tutup terpasang kembali.

Kalo ngerasa males untuk ngelakuin ini semua, kita juga bisa meminta bantuan pusat layanan kesehatan. Kita bisa bertanya ke BPOM, Kemenkes atau IAI, sekiranya mereka memiliki kantong obat bekas dimana Kita bisa menitipkan obat bekas kita di sana. Pas nitipin obat di sana, jangan ada drama airmata karena kan berpisah dengan obat yang selama ini telah membantu kita untuk sehat, yes. Ikhlaskan!

Yeaaaayyyyyyyyyyyyyy!

Selesai juga tulisan tentang DAGUSIBU yang panjang banget ini. Satu hal yang paling penting untuk saya sampaikan adalah, jangan lupa bertanya pada ahlinya, yaitu Apoteker ketika Anda ingin membeli obat. Dapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari Apoteker tentang obat kita, sebelum kita meninggalkan Apotek. Jangan sampai ketika kita meninggalkan Apotek, masih ada yang mengganjel atau kita merasa digantung perasaanya, ok!

Semoga tulisan tentang DAGUSIBU ini membawa manfaat. Kalo ada yang salah silakan dikoreksi. Kalo ada yang benar silakan dimanfaatkan. In Syaa Allah tidak ada hoax dalam tulisannya ini, karena saya tidak menulis dalam keadaan tertekan apalagi abis operasi pelastik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.