Apoteker Indonesia
Pharmaceutical & Healthcare

Apoteker Harus Percaya Diri Berkata “Hallo, I’m Pharmacist – Your Medicines Expert!”

Setelah sekian lama saya meninggalkan gedung Kantor Pusat Ikatan Apoteker Indonesia, akhirnya Sabtu, 29 September 2018 yang lalu saya kembali menjejakan kaki saya di sana. Ya, di tahun 2007 sampai 2013, saya memang pernah bermukim lama sebagai pegawai di PT. ISFI Penerbitan. Pekerjaan saya tidak jauh dari media, mengelola ISO Indonesia, Jurnal Farmasi Indonesia, Majalah MEDISINA dan buku-buku lain terbitan ISFI. Di penghujung tahun 2013, saya memutuskan resign, karena ingin mencoba tantangan baru yaitu berkecimpung di media online.

Ketika membaca pengumuman PP IAI melalui YPG mengadakan acara, saya antusias sekali. Dalam informasi Whatssapp disebutkan, ini adalah Gathering Jurnalis dan Blogger dengan tema Be Fun and Smart with Pharmacist – “Pharmacists: Your Medicines Experts”. Acara ini digiatkan oleh IYPG, IAI dan juga Gema Cermat. Sebenarnya, saya sendiri masih bingung menempatkan diri sebagai Jurnalis atau Blogger. Dulu memang sempat bekerja sebagai Jurnalis, tapi dulu. Cuma kalo dibilang sekarang adalah Blogger, masih suka angin-anginan. Suami saya bilang, lebih enaknya kamu disebut penulis aja! Sep!

Untuk informasi Gema Cermat klik di sini!
Untuk informasi tentang Ikatanan Apoteker Indonesia klik di sini
Untuk informasi tentang IYPG klik di sini

Profesi Apoteker berkembang ke arah yang positif setiap harinya. Setidaknya itu yang saya ketahui. Undang-undang nomor 36 tahun 2009 diiringi dengan Peraturan Pemerintah 51 tahun 2009 sedikit banyaknya telah membawa perubahan paradigma pada profesi ini. Ini pertama kalinya saya bisa tuntas membaca undang-undang. Beberapa tahun yang lalu saya melepaskan jabatan saya sebagai penanggung jawab Apotek, karena saya harus memilih satu di antara dua pekerjaan saya. Saya memilih melepas Apotek saya, kecuali jika pemilik apotek bersedia untuk mencari Apoteker pendamping yang bisa bergantian berpraktek. Iya, PP. 51 emang mengakar dan mendarah daging banget di kepala saya, saya amat teramat menjiwai itu sehingga tidak ingin merusak kaidahnya. “Pak Nurul Falah, percayalah pada saya!”

Setelah tidak lagi menjalani profesi Apoteker, saya lebih banyak mengupdate ilmu kefarmasian dan kesehatan saya dari membaca atau menulis, ditambah dengan pengalaman-pengalaman saya mengasuh anak. Nyatanya hal ini sangat menyenangkan. Setiap kali saya bertemu dengan orang lain atau sejawat yang bertanya dimana tempat saya menjalankan praktek kefarmasian, saya menjawab, “Di rumah. Pasien saja adalah suami, anak-anak saya, orang tua dan keluarga besar kami, tetangga atau kadang saudaranya tetangga dan orang tua dari teman Kei. Dan, Tulisan menjadi media perantara saya menyampaikan apa yang saya tau tentang kefarmasian.”

Dewan International Pharmaceutical Federation (FIP) mengingatkan semua kepada Apoteker di dunia, bahwasannya profesi Apoteker adalah profesi dengan beragam keahlian. Keahlian ini bisa diterapkan melalui sains dan penelitian, keahlian ini diterapkan juga melalui pelayanan dan juga melalui edukasi kepada banyak orang, utamanya generasi selanjutnya.

Tepat di hari Apoteker sedunia, FIP juga mengingatkan bahwa, Apoteker adalah nara sumber tentang hal-hal terkait kefarmasian, mereka adalah penyumbang saran yang terpercaya, baik untuk pasien atau pun tenaga kesehatan lainnya. Tentu hal ini tidak terlepas dari kompetensi yang Apoteker miliki.

Ikatan Apoteker Indonesia – Pekerjaan Apoteker Dari Hulu ke Hilir

Sekjen IAI _ Novendri

Seiring sejalan dengan Ikatan Apoteker Indonesia, pada pertemuan kemarin, Bapak Noffendri Roestam selaku Sekjen IAI juga mengungkapkan bahwa tanggung jawab Apoteker begitu luas. “Tanggung jawab Apoteker itu daru hulu ke hilir. “ itu kata-kata sederhana Bapak Noffendri yang dia ungkapkan dengan logat minangnya yang khas, menambah kekhusukan saya dalam mendengar ceritanya. Semoga setelah ini saya insyaf dan buru-buru perpanjang sertifikat kompetensi.

Nah, karena tujuan dari gathering ini adalah untuk mengenalkan dan mempublikasikan Profesi Apoteker pada masyarakat secara luas dan memberikan edukasi tentang penggunaan obat sebagai bagian dari pengabdian masyarakat, masa pertama sekali saya harus mengucapkan terimakasih pada panitia acara, karena secara langsung ini menguntungkan saya sebagai Apoteker, yang terbantu oleh acara ini sehingga saya sebagai Apoteker bisa lebih terkenal lagi. Setidaknya ada banyak jurnalis yang aan menulis tentang profesi Apoteker yang membat saya ikutan terkenal karena saya Apoteker.
Sekarang, berdasarkan diskusi, Kemenkes juga sedang gencar-gencarnya mengangkat profesi Apoteker di masyarakat. Ikatan Apoteker Indonesia pun semakin aktif. Pendidikan berkelanjutan semakin sering diselenggarakan, untuk meningkatkan kompetensi Apoteker. Lalu, balik lagi ke diri kita, akankah kita mengambil peluang ini.

Teman Blogger
Bersama Teman-Teman Blogger

Kalau saya, ya saya ambil peluang ini, sekalipun saya tidak berada di pusat layanan kesehatan. Satu-satunya keahlian saya adalah menulis. Oh, enggak ding, saya juga mulai tertarik main bulu tangkis sejak Jonathan Christie buka baju di hadapan banyak umat. Jadi kemampuan saya sekarang adalah menulis dan main bulu tangkis. Nah, dengan kemampuan menulis ini, saya berharap bisa membantu memberikan edukasi tentang obat dan kesehatan sejauh yang saya pahami, tentu dengan didukung sumber yang bisa dipercaya dan pengalaman yang saya alami.

Nah, berikut tips dari saya, tentang bagaimana cara Apoteker tetap bisa memanfaatkan ilmunya untuk masyarakat, sekalipun tidak bekerja di pusat pelayanan kesehatan:

  • Yang punya hobi menulis, jadilah blogger. Banyaklah menulis tentang masalah-masalah kesehatan dan kefarmasian, menginformasikan tentang bagaimana bijak dalam mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang obat.
  • Yang banci sosmed, ketimbang nulis status yang galau seolah jadi orang paling menderita sejagad raya atau sibuk mikirin politik yang dasarnya kita sendiri gak paham, atau justru membuat statemen untuk nebar kebencian, atau yang lebih gak penting yaitu ngeshare apa yang lambe turah share, mendingan bagi-bagi informasi singkat tentang info kefarmasian.
  • Yang suka anter jemput anak, ketimbang bengong main hape atau ngerumpiin nasip Sule setelah ditinggal selingkuh Lina istrinya bareng ibu-ibu terhormat lainnya, mending selipin obrolan berfaedah tentang bagaimana menyimpan obat yang benar di rumah, bagaimana cara benar membuang obat, tentang cara bijak menggunakan antibiotik dan lainnya.
  • Yang rumahnya suka dijadiin tempat ngumpul anak-anak, sesekali boleh kok ngajakin anak-anak kenalan ama obat yang suka ada di rumah seperti obat pertolongan pertama, ngasih tips supaya gak takut minum obat dan lain sebagainya.
  • Yang suka ikut arisan atau takliman, coba sesekali adain sesi konsultasi obat gratisan. Percaya diri aja, kan kata FIP dan diaminin ama IAI, Apoteker adalah orang yang paling tau semua tentang obat, jadi pasti dipercaya. Salah pun juga masih dipercaya. Tapi ya jangan disalah-salahin.

Banyak lagi kok cara untuk kita mengaplikasikan ilmu ayang kita punya. Gak mesti nunggu lolos jadi Pegawai Negeri Sippil dan ditempatkan di rumah sakit, jadi Apoteker Penanggung Jawab atau kerja di perusahaan farmasi berkelas, dimanapun kita, kita tetap Apoteker. Jadi, percaya diri aja berkata
“Hallo, I’m Pharmacist – Your Medicines Expert!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *