Apoteker memanfaatkan media sosial untuk edukasi obat
Pharmaceutical & Healthcare Writing and Digital Marketing

Apoteker – Yuk Memanfaatkan Media Sosial untuk Informasi & Edukasi Obat

Mengelola media sosial terkait dengan sebuah pemikiran, menggunakan strategi, memakan banyak waktu dan membutuhkan kehati-hatian. Karenanya, kesuksesan seseorang dalam mengelola media sosial, bukan hanya sebuah kebetulan!

Sebelumnya, tulisan memanfaatkan media sosial ini pernah dimuat di salah satu majalah farmasi. Dan, karena saya akan publikasikan di blog, maka mau gak mau bahasanya pun harus disesuaikan dengan gaya bahasa saya menulis di blog.

Sebenarnya nih, saya bukan orang percaya diri buat ngeshare segala sesuatu yang berbau informasi dan edukasi dunia farmasi di media sosial. Gimana mau percaya diri, ilmu saya gak pernah diupdate. Apoteker lain udah keliling Indonesia atau keliling dunia biar ilmu farmasinya makin tebel. Saya mah bolak balik Jakarta-Depok aja. Tapi, sejak saya memutuskan buat work from home, saya jadi berpikir ulang, kenapa saya harus gak percaya diri. Ada banyak sumber bacaan yang bisa saya jadiin informasi.

“sumber bacaan yang mana, dek? Komik Miko?” tanya suami saya, membuka aib.

Saya mah pantang kesindir. Saya mulai buka-buka jurnal-jurnal lokal dan international buat baca-baca tentang dunia farmasi (ciyeehhh…iya, apa?). Gara-gara saya lebih sering baca jurnal, sampe-sampe rating tayangan TV PESBUKER sempet turun dan nyebabin artis-artis India yang jadi bintang tamu di Pesbuker pun harus pulang kampung.

Ah, sudahlah.

Balik lagi ngomongin ajaibnya media sosial sebagai ladang buat perputaran informasi. Jadi, sekarang ini, jumlah pengguna media sosial semakin meningkat. Di tahun 2017 sendiri, diperkirakan sekitar 2,6 milyar orang di dunia merupakan pengguna media sosial yang aktif. Jumlah ini akan terus meningkat setiap tahunnya, seiring bertambahnya jenis platform media sosial. Ada banyak alasan mengapa seseorang memanfaatkan media sosial. Yang paling sering biasanya atas alasan personal, misalnya untuk silaturahmi, pekerjaan/bisnis, dan yang paling terkini adalah untuk nyebarin hoax dan gosip yang menggoda jiwa saya buat ngebaca.

Di beberapa negara maju, salah satu profesional kesehatan yang mulai gencar memanfaatkan media sosial secara profesional adalah Apoteker. Seperti dikutip dalam The Canadian Journal of Hospital Pharmacy, para Apoteker biasanya memanfaatkan media sosial secara profesional untuk menjalin hubungan dengan rekan sejawat, bergabung dalam grup organisasi profesi dan berbagi informasi tentang artikel, atau berita terbaru di dunia kesehatan, khususnya yang berasal dari jurnal-jurnal ilmiah, dan artikel yang bersumber dari pemerintah terkait dengan kebijakan kefarmasian. Media sosial yang paling banyak digunakan adalah Facebook dan Twitter. Dalam Journal of the American Pharmacist Association, disebutkan juga bahwa, banyak Apoteker saat ini yang memanfaatkan media sosial untuk kebutuhan profesinya, salah satunya adalah sebagai media untuk berbagi informasi dan edukasi tentang obat.

Enaknya nih, media sosial sekarang keren-keren. Fiturnya lengkap-lengkap. Apalagi yang berbasis aplikasi. Sebagai Apoteker, sebenarnya berperan aktif di media sosial ini bermanfaat banget. Secara, Apoteker bisa menjadi pendidik sekaligus orang yang mempengaruhi pola pikir masyarakat awam, agar menjadi lebih positif terhadap informasi kesehatan.

Mengingat masyarakat umum sangat familiar dengan media sosial, dan mudahnya penyebaran informasi melalui media sosial, gak salah kalo media sosial bisa menjadi alternatif penyebaran informasi dan edukasi oleh Apoteker kepada masyarakat.

Belajar dari Lambeturah

Kalo ada Apoteker yang gak tau Lambeturah, Lambeamis, dan Lambe lainnya, saya maklum. Pasti temen-temen sejawat pada sibuk. Gak seperti saya, yang tiap hari duduk di depan komputer. Kalo lagi kehilangan ide buat tulisan, biasanya dengan hanya membaca kabar tentang “Ruben Onsu dan istri yang mundur dari bisnis cake kekinian”, tiba-tiba saya langsung punya ide nulis. Enggak, saya mah gak ikutan nulis tentang Ruben Onsu, tapi, entah kenapa abis baca kehidupan selebritis, otak saya selalu segera menjadi lebih seger. Doping saya emang berita model beginian.

Kenapa sih harus belajar dari Lambeturah dalam memanfaatkan media sosial? Bukannya masih banyak account lain yang gak kalah keren? Iya, bener banget. Banyak account media sosial yang keren dan sangat mendidik baik yang dikelola sebuah perusahaan atau personal.

Tapi menurut saya, bagaimana cara Lambeturah memanfaatkan media sosial itu sangat efektif. Postingan dikelola dengan pemikiran sederhana, hanya dengan kekuatan handphone jadul, paling awal memberikan informasi, mampu menjaring followers dalam waktu cepat sekaligus membuat Nikita Mirzani kesel. Lambeturah menyajikan berita segar yang gak penting, tapi ngebuat followernya merasa penting dan kepo buat ngebaca, atau nulis di kolom komentar.

Lalu, ada hubungannya apa dengan dunia farmasi. Jadi gini, dunia farmasi itu intinya masih seputar dunia kesehatan. Banyak orang menganggap ini dunia yang serius. Nah, menurut saya lagi nih, zaman sekarang sesuatu yang serius itu justru makin ditinggalin ama pembaca media sosial. Pembaca media sosial lebih tertarik membaca hal-hal yang absurd, mengandung humor atau yang menginspirasi. Berita kesehatan sendiri lebih cenderung masuk dalam informasi yang serius dan kadang membosankan untuk dibaca, kecuali kalau dibutuhkan.

Nah, inilah tantangan Apoteker yang senang menulis dan gemar memanfaatkan media sosial di kehidupan sehari-hari. Bagaimana menghadirkan informasi dan edukasi seputar dunia kefarmasian, tetapi dengan cara yang segar, tidak menggurui, dan efektif membuat orang melakukan tindakan. Salah satu contohnya adalah yang dilakukan oleh salah satu fanpage di media sosial Pharmacist Meme, dimana ia menghadirkan humor-humor dunia kefarmasian dengan cara yang unik, sehingga setiap kali ada update terbaru, akan banyak yang menshare meme tersebut. Share inilah yang dibutuhkan, untuk menyebarkan informasi lebih luas.

Saat ini ada beberapa media sosial yang umum digunakan di masyarakat, di antaranya Facebook, Twitter, dan Youtube. Selain media sosial tersebut pemanfaatan personal blog pun mulai marak dilakukan oleh para profesional kesehatan, termasuk Apoteker.

Aktif Secara Profesional Sebagai Apoteker di Media Sosial, Konten Apa yang Bisa Dibagi?

Di Indonesia sendiri, keberadaan Apoteker masih belum terlalu familiar oleh masyarakat. Saat ini, Apoteker baru sedang berupaya unjuk gigi di masyarakat untuk bisa menjalankan fungsi klinisnya. Fungsi klinis ini yang diharapkan bisa membuat Apoteker lebih dekat dengan pasien.

Sebenarnya, dengan memanfaatkan media sosial, hal ini bisa menjadi solusi yang baik untuk mengenalkan fungsi Apoteker ke masyarakat, apabila Apoteker tersebut memang berminat. Apoteker yang aktif memanfaatkan media sosial bisa diajak untuk beralih fungsi, tidak hanya menggunakan media sosial untuk kepentingan personal tetapi juga secara profesional.

Tapi bingung kontennya? Ah, itu mah biasa.

Saya aja butuh waktu seminggu buat tau saya mau nulis artikel farmasi apa di blog. Lagi-lagi, coba deh baca instagram Lambeturah, siapa tahu dengan tahu kabar tentang Rafathar dan Gempita yang konon akan dijodohkan saat besar nanti oleh Nagita Slavina dan Gisel, kamu nemu ide tulisan tentang kesehatan. Saya biasanya begitu. Tapi kalo kamu gak seperti saya, yang mudah terinspirasi melalui akun Lambeturah, berarti kamu lebih baik dari saya. Jauh lebih baik.

Kalau saya pribadi sih, agak kesulitan yang buat bikin konten kesehatan dan kefarmasian yang ilmiah. Makanya saya lebih suka menulis apa yang sebenarnya sudah banyak disampaikan, penting untuk terus menerus disampaikan dan saya kemas ulang.

Ada beberapa konten yang bisa kita gunakan untuk dibagi kepada pembaca media sosial. Walaupun konten tersebut harus bermuatan kesehatan atau pun kefarmasian, tetapi Apoteker harus bisa mengemasnya secara kreatif. Jika konten yang kita sajikan bermanfaat, maka secara otomatis akan banyak orang yang mulai peduli pada info yang kita sampaikan, pengikut kita di media sosial pun akan bertambah. Dengan ini, perlahan tapi pasti kita juga telah membantu profesi Apoteker, untuk lebih bermanfaat di masyarakat, sekalipun hanya melalui media sosial.

1. Topik tentang kesehatan secara umum

Topik yang satu ini bakalan banyak banget pesaingnya. Secara hampir semua website berita kayak detik, kompas, viva, punya kolom topik kesehatan sendiri. Belom lagi website kesehatan juga banjir dimana-mana. Tapi gapapa, asalkan kita bisa menulis dengan gaya kita, plus tidak plagiat tulisan orang lain, kenapa nggak. Siapa tahu informasi yang kita sajikan lebih enak buat dibaca. Kalo berasa gak puas update berita kesehatan di media sosial, coba deh nulis di blog dan dishare ke media sosial.

Oya, untuk Apoteker, cobalah mengangkat topik kesehatan yang berhubungan dengan dunia farmasi. Tapi sekali lagi, jangan yang berat-berat, sesuaikan ama target pembaca. Gak mungkin kan kalo pembacanya masyarakat umum, kita nulis informasi yang jelimet, seperti :

Ibuprofen, Nasib obat ini di dalam tubuh begitu tragis. Dia dengan cepat diabsorbsi dari GI dan bioavaibilitasnya lebih dari 80%. Konsentrasi puncak pada anak-anak mencapai 17-42 mg/L (121-257 µmol/L) setelah pemberian dosis 10 mg/kgBB dicapai pada 1,1 ± 0,3 jam. Lebih dari 99% berikatan dengan protein plasma, dan dimetabolisme paling tidak menjadi 2 metabolit tidak aktif.

Halooo…Profesional sih professional, tapi bisa bikin orang umum pusing dan sakit kepala, kasihan kan mereka harus beli obat abis baca tulisan di blog kamu. Terkecuali kalo emang tujuan kamu nulis buat bikin pusing pembaca dan biar mereka beli obat ke Apotek kamu! Cusss!

2. Kenalkan Tentang Profesi Apoteker

senyum apoteker

Salah satu mimpi banyak apoteker adalah, dikenal masyarakat Indonesia bukan sekadar peracik obat, tetapi juga seseorang yang bisa menjalankan fungsi klinisnya seperti memberikan informasi tentang obat. Jadi jangan lupa memperkenalkan siapa itu Apoteker di media sosial yang dikelola. Kalo yang ini nih, sekali lagi, saya sebenernya belom percaya diri, secara ya saya kan gak ngelakuin praktek kefarmasian. Jadi kayak takut-takut salah gitu nyampein info obat. Saya lebih PD nyampein informasi tentang kosmetik, secara saya kan suka diendorse ama Ashanti buat promoin kosmetik dia.

Iya apa? Cuss lagi!

3. Membuat Quote

Tak hanya tentang artikel, coba deh membuat quote-quote sederhana yang menginspirasi. Quote ini bisa yang bersifat motivasi atau kesehatan, yang membuat masyarakat terinspirasi untuk hidup sehat. Contoh quote tentang kefarmasian misalnya:

poison quote

4. Membuat info grafik

Suka mendesain, konten berupa info grafik saat ini banyak sekali digemari, loh. Netizen tuh sekarang pengennya yang sederhana. Dalam satu halaman udah bisa dapatin banyak informasi. Nah, dengan modal infografik, diharapkan share media sosial bisa semakin tinggi. Coba deh buat info grafik tentang bagaimana cara penyimpanan beragam jenis obat, statistik resistensi antibiotik di dunia, kepatuhan meminum obat TB oleh penderita TB, dll.

superbug new linked

5. Promosi Bisnis

Untuk yang memiliki bisnis di bidang farmasi, misalnya mengelola apotek, atau membuat produk kosmetik skala UKM, ini juga bisa menjadi lahan untuk mengenalkan bisnisnya. Tetapi, jadilah profesional, mengenalkan bisnis tak selalu dengan berjualan secara hard selling. Saya pernah baca sosmed yang isinya promosi, diskon dan testimonial dari Sabang sampe Merauke yang diulang-ulang mulu setiap sejam sekali, itu tuh rasanya kayak kita lagi di Ramayana pas menjelang lebaran Idul Fitri.

Coba deh mengenalkan produk melalui artikel advetorial yang menarik, sehingga pembaca media sosial tak merasa sedang dipaksa untuk membeli produk di toko Anda.

6. Konsultasi tentang Obat

Siapa bilang konsultasi obat hanya bisa dilakukan dengan bertatap muka di Apotek. Siapa Apoteker yang gak pede ngasih konsultasi obat di sosial media?

Tunjuk tangan!

“Sayaaa!”

Maksud saya begini, janganlah kayak saya gak pedean. Kalo yang udah bertahun-tahun praktek di apotek, ilmunya pasti udah ngeletek di otak. Kalo ditanya soal itungan dosis buat anak yang dihitung berdasarkan berat badan, ngitungnya juga cuma dibayangin udah tau hasilnya. Nah, yang begini pede dong ngasih layanan kondultasi obat.

Bahkan, sejawat bisa mengajak beberapa rekan Apoteker untuk bergabung dalam satu group dan melakukan layanan konsultasi tentang obat dengan memanfaatkan media sosial. Tapi perlu diingat bahwa, layanan konsultasi ini bersifat online, dan masyarakat tetap diarahkan untuk melakukan konsultasi lanjutan dengan Apoteker di Apotek, ketika mereka akan membeli obat di Apotek.

7. Polling

Sekarang polling ini sangat berguna untuk melihat sejauh mana kepedulian masyarakat, akan sesuatu hal yang terjadi di masyarakat. Sesekali, buatlah polling tentang dunia farmasi. Polling ini bermanfaat untuk mengevaluasi sejauh mana masyarakat mengenal dan peduli kepada sepak terjang Apoteker di Indonesia, atau tentang hal-hal terkait dunia kefarmasian lainnya.

Contoh polling yang bisa dibuat misalnya : “Seberapa Penting Layanan Konsultasi Obat Langsung oleh Apoteker Diadakan di Apotek?”

8. Kontes atau Quis

Pengunjung media sosial bertambah banyak? Jangan lupa untuk mengadakan kontes atau quis sesekali. Berikan hadiah sederhana untuk mereka yang bisa menjawab quis. Iya sih ini butuh modal, tapi siapa tau aja ada temen-temen sejawat yang udah mapan kerja di perusahaan farmasi berkelas, mau kasih sumbangan gift. Dengan adanya quis ini, tentunya pembaca menjadi lebih berminat, untuk membaca info-info kefarmasian di media sosial yang kamu kelola.

Tapi inget, karena peserta quisnya adalah masyarakat umum, bikin soalnya jangan yang susah-susah. Jangan sampe ada pertanyaan tentang ‘Bagaimana cara bikin obat tetes mata steril?’. Itu susah banget. Mulailah dengan soal yang paling mudah misalnya, “Bagaimana cara yang tepat minum obat maag?”

Selain quis, kontes juga bisa dibuat. Contoh kontes di bidang farmasi yang bisa dilakukan misalnya kontes foto dengan taqline JAYA APOTEKER atau DAGUSIBU.

Catatan-Catatan Penting

pharma-social-media Setelah kita mengenal manfaat sosial media secara profesional, saatnya kita memulai. (kita? Saya kali. Kan saya yang nganggur!) Banyak di antara kita yang merasa kurang percaya diri untuk berbagi melalui sosial media secara personal, apalagi secara profesional. Nah, yang perlu dipahami adalah:

  • Jika kamu nggak aktif di media sosial secara personal, bukan berarti kamu tidak memiliki kemampuan mengelola media sosial secara profesional. Begitu pun sebaliknya, mereka yang aktif secara personal, belum tentu mampu mengelola media sosial secara profesional. Jadi yang harus dilakukan adalah mencoba. Niatkan bahwa ini dilakukan untuk memberikan manfaat pada masyarakat dan juga untuk meningkatkan nama baik dari profesi seorang Apoteker.
  • Jika kamu memutuskan untuk mengelola media sosial secara profesional sebagai Apoteker, maka hindari segala sesuatu hal yang berhubungan dengan SARA dan juga politik yang tidak berhubungan dengan konteks sebagai Apoteker. Berhubungan dengan hal-hal tersebut, apalagi saat sedang trending topik memang bisa meningkatkan follower, namun hal ini tidak mendatangkan lebih banyak manfaat, ketimbang kalo terus memperkaya artikel di media sosial, dengan menampilkan artikel menarik yang berhubungan dengan profesi Apoteker tersebut.
    (ini nih kayak catatan buat saya juga, secara saya suka menyimpang kalo pas lagi nulis. Lagi nulis tentang kesehatan tiba-tiba muncul pembahasan soal Mimi Peri di blog saya. Note, jangan lagi!)
  • Ingat bahwa Indonesia memiliki undang undang yang mengatur transaksi elektronik. Jadi, bijaklah memanfaatkan media sosial. Hindari bahasa yang kasar, sindiran terhadap profesi lain, kritikan pedas pada pemerintah yang tak memiliki dasar apapun.
  • Pake bahasa manusia, yang mudah dipahami. Jangan pake bahaya alay, eaaaa! Jangan juga pake bahasa slank, men! Apalagi yey masih paka bahasa gaul, cyin! Jan juo pakai bahaso daerah masing-masing, dih! Pake bahasa Indonesia yang mudah dipahami, karena pembaca kita bakalan beragam dan banyak banget. Aamiin!
  • Ingatlah juga bahwa, menggunakan media sosial adalah pilihan pribadi. Sejauh mana seseorang memilih untuk bisa beriteraksi dengan follower nantinya, itu yang akan membuatnya termotivasi. Dengan memiliki keyakinan tentang apa yang bermanfaat untuk masyarakat banyak, hal ini akan membuat kita berbuat sebanyak mungkin untuk masyarakat. Dan ketika masyarakat merasakan dampak dari apa yang telah kita tulis, maka disanalah kita telah berhasil mengangkat martabat profesi Apoteker.
  • Sebenernya saya mau edit tulisan ini supaya gak panjang banget kayak versi nya di majalah, tapi saya bingung motong-motongnya. Intinya, hayuklah para Apoteker yang berminat di bidang digital dan teknologi, kita manfaatkan kemajuan teknologi untuk membangun profesi kita. Seenggaknya dimulai dari satu langkah sederhana aja.

    Langkah apa itu?

    Ya…misalnya, kalo saya share tulisan blog saya di facebook, tolong deh dilike dan dishare lagi, biar tulisan saya banyak yang baca.

    Hahahaha…ini mah malak!

2 thoughts on “Apoteker – Yuk Memanfaatkan Media Sosial untuk Informasi & Edukasi Obat”

  1. Hai, mbak Evita. Salam kenal! Saya Nanda. berkat mbah google, saya jadi bisa nemu blog apoteker kece ini ^^ sungguh menarik & patut dicontoh. Saya termasuk lulusan farmasi yang sangat mendukung apoteker eksis di tengah masyarakat dan salah satu cara yang sedang ngehits adalah melalui medsos.
    saya sedang berencana melakukan penelitian tentang apoteker & informasi kesehatan via internet. bila berkenan, mohon mbak Evita bisa menghubungi saya via email. terimakasih & sukses selalu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *