Merawat Orang dengan masalah asam lambung dan ansietas
Family

Merawat Orang dengan Masalah Asam Lambung dan Ansietas

Menyambung artikel sebelumnya, tentang penyakit asam lambung dan ansietas, yang dialami oleh suami saya, kali ini saya akan bercerita, apa saja yang selanjutnya saya dan suami alami, selama masa perawatan, dan bagaimana kami berdua menghadapi si penyakit yang membingungkan ini.

Sejak dokter mengatakan bahwa suami saya memiliki masalah asam lambung dan ansietas, kesehatan suami mulai sering naik dan turun. Kalau dia salah makan sedikit atau ada yang dipikirin, dia akan drop. Saat drop, awalnya perut menjadi kembung dan begah plus tenggorokannya sakit, dada mulai nyeri dan napas agak sesak. Yang paling tidak nyaman menurut dia adalah, sensasi kliyengan, seperti mabuk di atas kapal. Dan, satu lagi adalah, ia akan mulai gelisah, cemas dan seperti kebingungan.

Setidaknya sekali atau dua kali dalam sebulan, kami pasti mengunjungi dokter. Dan, selalu, sekembalinya dari dokter, jawaban yang diterima adalah, asam lambungnya naik, lalu kami dibekali dengan lansoprazole, antasid dan vitamin B kompleks.

Obat-obat tersebut bisa menenangkan sementara waktu. Namun, saat pikiran suami membludak atau saat ia salah pola makan, asam lambungnya pun naik kembali. Dan, rasanya satu-satunya obat bagi dia adalah bertemu dokter, hanya untuk meyakinkan kembali bahwa sensasi ini adalah benar hanya asam lambung, bukan jantung, bukan hepatitis, bukan kanker, dll. Sampai dengan beberapa saat lamanya kami menjalani piknik ke dokter rutin, dengan harapan suami saya segera sembuh dari asam lambungnya.

Memutuskan Merubah Pola Hidup untuk Mengurangi Sensasi Asam Lambung dan Ansietas

Keputusan merubah pola hidup adalah keputusan paling cerdas yang pernah diambil oleh suami saya. Dalam dua minggu ia sukses berhenti merokok dan menjalani rutinitas olahraga pagi setiap harinya. Makan lebih sering dalam porsi kecil juga dilakoni. Padahal selama ini dia adalah tipe orang yang makannya sering dengan porsi yang banyak. Kami mencoba beragam tips yang kami baca di internet. Mulai dari mengonsumsi teh herbal, membuat infus lemon, mengonsumsi pepaya, dll.

Apakah ada kemajuan? Pasti. Setiap usaha, sekecil apapun pasti memberikan perubahan, walaupun mungkin belum seperti yang diharapkan. Untuk menyemangatinya, saya pun ikut berolahraga. Kami berjalan kaki atau lari-lari kecil setiap pagi ke pasar, sambil mencari lemon yang segar untuk dibuat infus. Kalau tidak sempat lari, kami mencoba senam-senam ringan di rumah.

Sekalipun ada perubahan, namun ketika suami banyak pikiran, sensasi naiknya asam lambung dan ansietas pasti akan dia alami. Ini yang sulit untuk dikontrol, yaitu pikiran. Tapi, saya pikir Tuhan tidak pernah memberikan ujian tanpa maksud. Jika segala pola hidup sehat tidak mempan untuk mengatasi kecemasan yang tiba-tiba datang, maka perlu cara yang berbeda. Ya, meningkatkan ibadah.

Selama menikah, suami saya hanyalah orang yang mengerjakan ibadah wajib saja, artinya paling hanya mengerjakan sholat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadhan saja. Sunahnya palingan solat tarawih, idul fitri dan idul adha. Nah, ketika terkena masalah asam lambung, walaupun belum mengerjakan yang sunah, hanya saja ia mulai memperbaiki kualitas ibadahnya. Dia mulai membiasakan diri solat di awal waktu dan berupaya selalu berjamaah di Masjid. Dia bilang, saat gangguan cemas karena asam lambung sedang menyerang, dia cuma bisa merasa tenang kalo sudah ke mesjid. Alhamdulillah. Sejak itu dia mulai belajar untuk sholat lima waktu di masjid. Sekalipun sedang di kantor, ia akan mencari mesjid untuk solat fardhu.

Lalu, apakah perubahan pola hidup sehat dan cara beribadah yang diperbaiki ini lantas menyebabkan asam lambungnya sembuh seketika? Tidak! Hanya saja, kami mulai bisa lebih ikhlas menerima bahwasannya, ini adalah bagian dari diri suami saya. Ketika yang ia rasakan adalah sensasi sakit, kami berpositif thingking bahwa hal ini adalah cara Allah untuk menghapus dosa. Dan, ketika sensasi asam lambung berkurang, kami bersyukur mendapatkan bonus dari Allah atas usaha kami. Sampai saat ini sensasi asam lambung masih sering muncul, tapi suami saya semakin tahu bagaimana ia harus bersikap.

Baca: Menjadi Pasangan orang dengan GERD dan Ansietas

Upaya Penderita Asam Lambung dan Ansietas dan Peran Keluarga dalam Penyembuhannya

Nah, kalau mau disimpulkan, ini dia serangkaian perubahan pola hidup positif yang dilakoni oleh suami saya:

  • Berhenti merokok
  • Tidak lagi mengonsumsi kafein. Terkadang ia minum teh tapi tidak terlalu banyak seperti biasanya.
  • Sudah mau makan buah dan sayur
  • Rutin mengonsumsi parutan kunyit atau jamu kunyit
  • Mulai belajar untuk lebih ikhlas menerima apa yang ada
  • Mulai olahraga, sekalipun hanya olahraga ringan
  • Mulai meningkatkan ibadah wajib dan menambah yang sunah
  • Semakin gemar mendengar ceramah-ceramah agama baik di mesjid atau pun melalui youtube
  • Mulai berupaya mengendalikan pikiran dan emosi, baik saat ada masalah dengan saya atau pun saat ada salah paham dengan teman-temannya

Baca : Lansoprazole, sahabatnya penyakit asam lambung

Lalu, apa peran kita, sebagai pasangan orang dengan masalah GERD atau asam lambung dan ansietas,untuk kemajuan orang-orang yang kita sayangi? Saya coba tanyakan secara implisit ke suami saya mengenai apa peran keluarga yang paling penting bagi penyembuhan mereka. Dan, menurut dia yang dibutuhkan dari saya atau keluarga adalah:

  • Menjadi motivator untuk dia dalam merubah pola hidup
  • Ketika ia dalam posisi cemas dan negatif, walaupun hanya mendengar kecemasan-kecemasan dia tanpa bicara banyak, itu cukup membuat ia lebih tenang
  • Sebagai orang yang berupaya mengembalikan dia ke pikiran positif saat ia drop dengan penyakitnya
  • Mengingatkan dia untuk mengonsumsi buah dan sayur juga vitamin. Dan juga berupaya memberikan support untuk kebutuhan kesehatan lainnya, seperti misalnya madu, susu kambing, dll.
  • Yang lebih penting menambah kepercayaan diri dia bahwa dia akan sembuh suatu saat nanti.

13 thoughts on “Merawat Orang dengan Masalah Asam Lambung dan Ansietas”

  1. Dear kak evitafitriani, bolehkah saya minta alamat emailnya? Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan terkait artikel kaka yg berhubungan dengan GERD dan ansietas. Terimakasih sebelumnya ????????

        1. dulu, waktu awal-awal kena gerd, sangat terganggu sekali. Produktivitas otomatis turun. Rasa cemas yang bikin dia jadi susah ngapa-ngapain. tapi kalo sekarang, karena udah bisa dia kontrol semuanya, jadi udah gak ada masalah lagi. Gimana suaminya, udah membaik?

  2. Nemu blog ini gara2 kemarin divonis menderita gerd. Apa yg saya alami hampir sama dengan suaminya mba. Saya memang punya riwayat maagh. 3 hari yg lalu saya sempat merasa nyeri di dada saat menarik nafas panjang, kemudian ada sensasi panas di dada. Nah mulai dari situ saya paranoid terkena jantung, hingga kepikiran dan stress yang menghasilkan sulit tidur dan lemas. Alhamdulillah setelah kunjungan ke dokter sudah agak mendingan.

    1. suami saya awal-awal dulu merasa wajib banget kalo sensasi gerdnya dateng ke dokter. Terus nyampe dokter sensasinya ilang. Begitu terus sampe akhirnya dia bosen sendiri ketemu dokter. Dokter juga bosen ketemu dia.

  3. Mbak evi.kondisi saya 100% sama dg suami mbk. Saya gelisah .buat jalan kliyengan sudah ke dokter bpjs hanya diberi ratinidin ganti omeprasol ganti antasid saya jd bingung ini sdh 1 bulan .saya coba browsing ada inpepsa sudah habis 1btol tpi blm ada hasil.kalau ke dokter bpjs jga itu2aja.

    1. Hi, Mas Achmad.

      Memang butuh sabar dalam terapi penyakit ini. Suami saya pun walau sekarangudah lebih bisa makan segala macam makanan, tapi kadang kliyengannya masih sering muncul.

      Memang obat asam lambung sama saja, PPI (omeprazole atau lansoprazole) Antacida (Co: Inpepsa) atau ya golongan ranitidin.

      Waktu awal-awal suami saya mengonsumsi hanya omeprazole/lansoprazole (1 kali sehari pagi hari) dan antacid (3 kali sehari) sebelum makan, sambil terus perbaiki gaya hidup. Konsumsi antacid dikurangi kemudian, atau sekitar hanya 2 mingguan saja dikonsumsi. Lalu lansoprazolenya (1 kali sehari) tetap diteruskan, seingat saya sampai lebih dari 1 bulan, dan ini sesuai petunjuk dokter. Antacida tidak bisa dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama, lain dengan lansoprazole atau omeprazole. Coba lihat postingan saya soal lansprazole.

      pesan saya perbaiki gaya hidup dan lebih dekat dengan Tuhan, orang dengan asam lambung butuh tenang kondisinya. Dokter bahkan jarang yang benar-benar bisa menyelesaikan masalah asa lambung ini, karena sebagian terkait dengan psikologis penderitanya.

  4. Senang melihat blog ini..
    Saya mengalami ansietas sejak tgl 8 agustus 2017..
    Sempat hilang sebelum puasa..
    Namun sekarang kambuh lagi..
    Gejala ny nambah parah..tapi saya udah bisa sedikit mengontrol nya mbak..
    Tapi di ceritain ke orng2 terdekat, gak ada yg bisa mengerti dan menganggap saya lebay..
    Saya terus mencoba cara agar bisa mengontrol ansietas ini..
    Beruntung suami mbak dapet orng yg bisa ngertiin..

    1. Terimakasih sudah mampir.

      Suami saya juga begitu, saat puasa hilang semua asam lambungnya:)
      Memang gak mudah mbak meyakinkan ke sekeliling kalau kita ada asam lambung. Kalau memang pada cuek, yakin aja Tuhan gak pernah cuek. Terus aja mengadu dan berdoa, In Syaa Allah diberikan ketenangan. Dan, jangan sampai sering bengong ya. Isi terus waktu kosongnya dengan hal-hal yang positif. Kurangi melamun agar ansietas tidak sering muncul.

  5. saya juga pemderita gerd…tapi akhirnya sembuh karena minum perasan lemon setiap hari..dan untuk menghilangkan rasa cemas..seperti leher tercekik..sesak nafas..minum vit b complex keluaran kimia farma hanya 2000 rupiah saja isi 10 tablet..dan banyak banyak berdoa / berserah kepada Tuhan…salam sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.