Menjadi Pasangan Hidup Orang dengan GERD dan Ansietas
Family

Menjadi Pasangan Hidup Orang dengan GERD dan Ansietas

Hidup bersama penderita GERD dan ansietas, membuat Anda memiliki dua pilihan. Ingin hidup berwarna atau sekadar hitam putih?

Gejala ini Bukan Sekadar Masuk Angin Biasa

Di 4 tahun awal pernikahan saya dan suami, gejala masuk angin adalah gejala penyakit paling sering yang suami saya rasakan. Hampir setiap minggu keluhan itu selalu datang, dan ia menjadi senang sekali pergi ke tempat pijat tradisional. Bukan sekali dua kali, aktivitas pijat memijat tersebut bisa dijalani bahkan dua kali seminggu. Dan, tetap tak ada kemajuan, masuk angin seakan sudah menjadi bagian dari diri suami saya.

Tapi, kami berdua tak pernah terlalu menghiraukan, toh hanya masuk angin. Bagi saya, lebih baik masuk angin dibandingkan kemasukan orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga kami. Itu akan sangat berat! Lagipula, kami berdua berpikir, selagi semua aktivitas seperti bekerja masih bisa dijalankan, ini bukan masalah besar. Itu hanya masuk angin biasa dan gak ada yang perlu dikhawatirkan. Walaupun, jauh di dasar lubuk hati saya sebenarnya bertanya, penyakit apa sih, ini?

Semakin saya browsing tentang keluhan suami, semakin banyak hal menyeramkan yang saya baca. Yang paling suka menakutkan adalah masalah jantung.
Hingga sampai sekitar 1,5 sampai 2 tahun yang lalu, gejalanya mulai terasa semakin berat. Suami saya seperti merasa sering lesu, lemas, badan tidak enak dan berkeringat dingin. Hal ini juga diikuti oleh kecemasan yang membuat dia gelisah. Kami pergi ke dokter, dan dokter hanya mengatakan suami saya terlalu capek, atau banyak pikiran. Dokter memberikan resep antasid dan PPI (Omeprazole), ditambah vitamin B kompleks. Oke, dari resep tersebut saya berkesimpulan, suami saya memiliki maag kronis. Masalah beres? Enggak juga!

Berawal dari menabrak kucing dan Suami saya terkena serangan sesak napas di KRL

Ini menjadi awal mula saya bisa memastikan bahwa sakit yang dialami suami bukan masuk angin atau maag biasa, seperti dugaan saya. Suatu ketika, saya, suami, abang plus kakek dan nenek bepergian keluar untuk makan malam bersama. Sepulangnya, di perjalanan, tanpa sengaja suami menabrak seekor kucing yang tiba-tiba melintas. Kami sempat mencari tempat parkir dan turun mencari jenazah sang kucing, tapi tidak ditemukan. Akhirnya kami pulang dengan gelisah. Saya gak sangka kalo kegelisahan suami terbawa sampai keesokan hari. Semalaman ia tidak tidur. Suami mengajak saya kembali ke TKP sebelumberangkat ke kantor, sambil berharap bisa menemukan bangkai tikus tersebut di siang hari. Ternyata tidak!

Mitos-mitos buruk seputar menabrak kucing membayangi benak suami saya. Kami berusaha melupakan hal tersebut. Kami memarkir mobil kami di stasiun dan melanjutkan perjalanan ke kantor dengan kereta api.

Pulang dari kantor, saya pikir suami sudah mulai tenang. Nyatanya, padatnya kereta api yang biasanya tidak menjadi masalah untuk dia, justru hari itu menjadi masalah. Suami saya terkena serangan sesak napas di atas kereta api. Peristiwa itu tentu saja mengejutkan saya sebagai istri yang begitu lemah lembut perasaanya. Yang ada di benak saya adalah, ini serangan jantung. Semua penumpang kereta berupaya memberikan ruang agar suami saya bisa bernapas. Seorang bapak-bapak memijat-mijat ujung-ujung kuku suami saya, dan seorang ibu membalurkan minyak kayu putih di dada dan kening suami. Saya, gak bisa ngapa-ngapain kecuali bingung dan nangis.

Di Manggarai, kami memutuskan untuk turun. Dibantu petugas, kami pun bisa beristirahat sejenak. Suami mulai bisa mengambil napas sedikit. Saat ia merasa lebih enak, ia mengajak saya keluar stasiun. Saya memutuskan untuk mencari taksi saja. Namun, baru beberapa langkah berjalan, serangan sesak napas tersebut kembali lagi.

“Ade, kakak mau pulang. Adek, Kasian abang! Pulang kita sekarang”

Sumpah, demi dengar suami saya ngomong seperti itu saya langsung blank. Saya ketakutan apa yang akan terjadi. Napas suami satu-satu, dan dia bilang dadanya nyeri. Saya langsung bergegas minta dicarikan bajaj yang bisa antar ke rumah sakit terdekat. Untunglah rumah sakit tidak jauh dari stasiun. Kami diantar kesana. Pertolongan pertama langsung dilakukan. Suami dipasangkan oksigen di UGD. Saat itu dia dalam keadaan setengah sadar. Dokter meminta saya untuk mencarikan bubur untuk dimakan oleh suami.

EKG

Sekembalinya saya dari membeli bubur, suami saya masih tidur. Napasnya masih terlihat berat walau dengan bantuan oksigen. Saat bangun, saya menyuapinya bubur ayam. Ia sudah terlihat lebih baik. Saya menceritakan kronologi kenapa suami saya sesak napas. Dokter bilang semua baik-baik saja, kecuali asam lambung suami yang tinggi yang membuat suami cemas berlebihan. Dia memberikan penjelasan ini itu tentang masalah asam lambung, GERD dan ansietas. Sedikit banyak saya sudah cukup paham tentang penyakit ini, karena kakak ipar saya, kakaknya suami saya sudah lebih dulu mengalaminya.
Lega? Ya, lumayan. Dokter memastikan bahwa semua baik-baik saja. Namun saya tidak bisa lega tanpa membawa hasil pemeriksaan jantung. Dokter pun menuruti saya melakukan EKG, dan hasilnya normal, tidak ada masalah.

Dari pertemuan saya dengan dokter tersebut, di situlah perjalanan saja menjadi pasangan orang dengan masalah asam lambung dan gangguan kecemasan dimulai!

Oya, kurang lebih seminggu setelah suami saya masuk rumah sakit dan kembali bekerja, sepulangnya dari kantor ia mengirimkan whatssapp ke saya.
“De, kakak nemu bangkai kucing baru mati di jalanan. Gak tau siapa yang nabrak!”
“Trus?”
“Kakak angkat, kakak masukin plastik!”
“Buat apa?”
“Mau kakak kubur. Dulu kan kakak pernah nabrak kucing juga gak sempat kubur karena bangkainya gak ketemu. Nebus dosa kakak lah.”
“Terserah kakak aja!”

Ternyata satu minggu lebih dari kejadian tersebut, si kucing tetep menghantui pikiran suami saya. Selepas proses pemakaman si kucing, suami tampak lebih sumringah dan segar. Seolah-olah impiannya tercapai!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.