penyalahgunaan obat tramadol dan carisoprodol
Pharmaceutical & Healthcare

Habit Forming yang Membentuk Penyalahgunaan Obat Tramadol dan Carisoprodol

Yeay, mari menulis lagi.

Padahal, saya baru aja hampir rampung menulis tentang obat batuk untuk anak, tapi sekarang malah tergiur untuk menulis tentang kasus penyalahgunaan obat, yang dilakukan oleh beberapa remaja di Kendari beberapa waktu yang lalu. Karena berita ini sempet bikin heboh dimana-mana, saya jadi pengen ikutan nulis dari versi saya sebagai Apoteker.

Saya tuh, emang suka ikut-ikutan orangnya. Kemaren aja, pas Teteh Raisa dan Babang Hamish nikah, saya juga udah mulai ikut-ikutan nulis.

“Tepat hari ini, merupakah hari patah hatinya siapa jilid 2, dimana Babang Hamish sudah halal mencium bibir teteh Raisa di tengah kerumunan orang banyak tanpa harus peduli akan disanjung atau dibulli. Ah, mesranya! Perkawinan ini akan menjadi perkawinan paling elegan. Dengan mas kawin senilah 10 tahun gaji saya, membuat suami saya berkata, untuk menenangkan saya yang kelihatan iri hati, “Mas kawin itu yang terbaik adalah yang paling mudah, Ade!” Saya mengiyakan ikhlas.

Akhirnya saya gak jadi nulis tentang Babang dan Teteh, saya takut kelihatan dengki. Tau sendiri Indonesia, orang dengki bakalan dipuji, sedangkan saya kan gak suka dipuji. Dari situ saya dapat pelajaran, menulislah tentang sesuatu yang kamu kuasai, sehingga hasil tulisannya bisa bermanfaat, dan gak bikin orang berdosa waktu membacanya.

“Hi, teman-teman Apoteker saya, ada gak yang pernah kasih Tramadol tanpa resep selama ini di apoteknya?”

Sesaat setelah heboh heboh soal penyalahgunaan obat resep di Kendari, saya sempat kirim pesan ke Group WA Apoteker angkatan saya, untuk nanya sejauh mana Tramadol bisa dibeli tanpa resep dokter. Alhamdulillah, hampir semua teman-teman saya yang pegang Apotek bilang, sejauh ini mereka gak pernah jual Tramadol tanpa resep. Teman-teman saya yang Apoteker dan praktik di Apotek, syukurnya, kebanyakan sudah menjalankan praktek Apoteker yang benar. Artinya, tidak lagi seperti zaman dahulu yang Apoteker sulit ditemui di Apotek.

Sekarang, di beberapa Apotek di Indonesia, pelanggan juga sudah bisa bertemu dengan Apotekernya. Baik Apoteker utama atau pun pendamping. Jadi pasien gak usah malu untuk nanya ke asisten apoteker, apa bisa konsultasi dengan Apotekernya. Nah, kalo kata asisten apotekernya bilang, apotekernya gak di tempat, tinggal telpon Ikatan Apoteker Indonesia aja, laporin ada anggotanya yang gak jalanin prakter kefarmasian yang benar!

Nah, cerita tentang beberapa remaja yang tiba-tiba kejang-kejang, lemah otot, hilang kesadaran, bahkan ada yang sampai meninggal, pasca mengonsumsi obat-obatan seperti Tramadol, Somadril atau Somadril Comp. (setelahnya saya tulis PCC) tentu aja bikin miris. Miris, karena, ternyata semudah itu obat-obatan yang notabennya dianggap obat keras golongan G, bisa beredar dengan luas. Bukan cuma beredar masalahnya, tapi si pengedar atau pun si pemakai paham bener, bahwa obat-obatan ini memberikan efek yang nyaris sama dengan narkotika. Kadang jadi mikir, kalo dipikir-pikir, Informasi dari Google ini bisa berefek membahayakan untuk orang-orang yang gak punya pikiran.

Kenalan Sama Tramadol

Mari kita ngobrolin Tramadol. Kalau ada yang penah menjalani bedah kecil atau besar, mungkin ada yang pernah dapetin resep Tramadol.

Tramadol digunakan sebagai antinyeri, atau analgetik. Jadi, Tramadol ini bukan golongan narkotika. Obat ini termasuk dalam obat keras golongan G, yang penggunaannya harus berdasarkan resep dokter dan di bawah petunjuk, baik dokter dan Apoteker.

Kalo bukan narkotika, kenapa kok Tramadol disalahgunakan?

Kalo kita searching di Google, penyalahgunaan obat tramadol sebenarnya udah sering banget terjadi, bukan cuma di Indonesia. Tramadol abuse adalah hal yang cukup sering ditemui, termasuk di negara-negara maju. Yuk, kita simak penjelasan Tramadol, seperti dikutip dari laman webmd.com.
Tramadol adalah obat analgetik, yang digunakan untuk mengatasi nyeri sedang sampai berat, yang memiliki sifat menyerupai narkotik golongan opiat. Tramadol bekerja di sistem syaraf pusat dalam mengatasi nyeri.

Dari definisi ini kita tahu bahwa, Tramadol adalah obat yang memiliki sifat menyerupai narkotik golongan opiat. Beberapa contoh obat yang termasuk golongan opiat antara lain adalah morfin dan heroin.

Pertanyaannya, sifat yang manakah yang dikatakan mirip dengan narkotika opiat ini? Seperti yang disebutkan sebelumnya, Tramadol bekerja di sistem saraf pusat manusia, atau otak. Tramadol dapat meningkatkan kadar neurotransmitter serotonin dan norephinefrin di otak. Peningkatan kadar kedua neurotransmitter, berpengaruh pada mood seseorang. Penyalahgunaan obat Tramadol bisa menyebabkan penggunanya tiba-tiba merasa sangat senang atau sedih berlebihan, kadang percaya diri, kadang putus asa, dll. Efeknya terhadap mood ini, lebih kejam dari efek patah hati yang ditimbulkan akibat Babang Hamish melamar Teteh Raisa. Hal ini biasanya berlaku juga pada obat-obat golongan antidepresan.

Nah, masih dilangsir dari webmd.com, penyalahgunaan obat yang sistem kerjanya mempengaruhi mood ini, berisiko menyebabkan penggunanya ingin meningkatkan dosis obat semakin tinggi dan tinggi, untuk mendapatkan efek yang mereka inginkan. Toleransi obat biasa terjadi pada pengguna yang menyalahgunakan obat ini. Yang dicari oleh para penyalahguna obat Tramadol umumnya adalah efek euforia dan perubahan mood menjadi lebih tenang atau kedang lebih senang. Tanpa mereka sadari mereka pun merasa ketergantungan.

Saat ketergantungan inilah bahaya mulai mengintai. Pada dosis yang salah, Tramadol memberikan efek samping yang cukup menggangu, seperti cemas, sulit tidur atau insomnia, badan gemetar, sulit konsentrasi dan sampai kejang-kejang. Pengguna yang sudah mengalami ketergantungan secara psikologi, maka ia akan merasa cemas jika tidak meminum Tramadol. jika dibiarkan, mungkin bisa menyebabkan rasa candu. Alhasil, mereka akan mengupayakan segala cara untuk mendapatkan Tramadol dengan cara-cara yang salah, seperti memalsukan resep dokter atau membeli melalui pedagang ilegal.

Sedangkan secara fisik, pengguna akan merasakan hal yang tidak begitu berbeda dengan para pengguna narkotika golongan opiod. Karenanya, memberhentikan Tramadol secara tiba-tiba akan membuat pengguna merasa sangat tersiksa. Efek yang sering dirasakan adalah: Gangguan saluran cerna, depresi dan agitasi, konvulsi, bingung, paranoid, cemas berlebihan, badan terasa kaku dan nyeri.

Pada pengguna yang telah menyalahgunakan Tramadol dalam waktu lama, maka disarankan untuk mendatangi tenaga kesehatan, agar dibantu proses lepas ketergantungan obatnya. Menghentikan obat secara tiba-tiba akan menyebabkan sindrom lepas obat yang tidak nyaman bagi pengguna.

Nah, itulah efek penyalahgunaan obat Tramadol, yang baru-baru ini namanya mendadak ngehits di setiap stasiun televisi di Indonesia.

Kenalan dengan Carisoprodol (Somadril & PCC)

Setelah tadi kita kenalan dengan Tramadol, sekarang dengan Carisoprodol. Mungkin nama generik ini awam di telinga kita. Tapi, kalau disebutkan Somadril atau PCC, pasti Anda ingat, karena obat ini adalah obat yang sama-sama dioplos dengan Tramadol, yang menyebabkan banyak remaja kejang atau bahkan hilang kesadran di Kendari. Iya, kandungan Somadril adalah Carisoprodol, sedangkan kandungan PCC adalah Paracetamol, Cafein dan Carisprodol. Untuk Paracetamol dan Cafein dianggap efeknya tidak membahayakan.

Nah, saat ini, Carisoprodol sudah ditarik izin edarnya di Indonesia, tepatnya pada tahun 2013. Izin edar Carisoprodol, atau di negara maju sering disebut dengan Soma, juga telah lama ditarik dari beberapa negara di Eropa. Alasannya jelas, karena efek samping obat ini yang begitu luas dan penyalahgunaan obat ini juga begitu luas terjadi. Obat ini bisa menyebabkan ketergantungan pada penggunanya.

Carisoprodol, yang terkandung di dalam Somadril dan PCC ini, adalah obat untuk relaksasi otot, yang bekerja menghambat nyeri di syaraf maupun si otak. Pada umumnya, pengguna Carisoprodol ini, juga akan mengikuti beberapa sesi terapi fisik untuk mengembalikan fungsi ototnya yang mengalami gangguan. Amat disayangkan, penyalahgunaan obat Carisoprodol sangat sering terjadi. Jika kita membuka Google dengan kata kunci Soma Abuse, maka akan muncul banyak sekali penyalahgunakaan obat sejenis Soma atau Carisoprodol ini di dunia.

Banyak pengguna Somadril, melakukan penyalahgunaan obat dengan mengonsumsi Somadril dan berharap pada efek sedatifnya. Carisoprodol sendiri hanya boleh dikonsumsi dalam jangka waktu pendek, yaitu 2 atau 3 minggu, dibawah pengawasan dokter. Konsumsi Carisoprodol dalam jangka waktu lama, menimbulkan toleransi obat, sehingga pengguna akan selalu meningkatkan dosis, dan menjadi adiktif pada obat ini.

Menurut beberapa sumber, efek relaksan otot pada Carisoprodol ini bekerja singkat, dikarenakan di dalam tubuh obat ini akan segera dimetabolisme dengan cepat, dan menghasilkan zat yang bersifat sebagai transquilizer, yang disebut Meprobamate.

Meprobamate sendiri memiliki sifat yang mirip dengan psikotropika Benzodiazepin. Kalo ngomongin tentang psikotropika Benzodiazepin, inget dong ama kasus Kakak Tora Sudiro, yang mengonsumsi Dumolid. Di dalam tubuh, Meprobamate akan menghasilkan sensasi rileks dan menenangkan, bagi sebagaian orang efek ini bisa meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Baca : Efek Mengonsumsi Dumolid (Nitrazepam) – Psikotropika yang Membawa Tora Sudiro ke Tahanan

Pengguna obat-obat dengan kandungan Carisoprodol ini juga seringkali menggabungkannya dengan beberapa obat yang memiliki efek penenang lainnya, atau obat-obatan yang bekerja di sistem syaraf pusat. Jika ini dilakukan, maka kerja obat akan saling menguatkan sehingga sensasi rileksasi yang dirasakan semakin tinggi, dan kemungkinan orang akan terus mengonsumsi obat ini semakin besar.

Lalu, apa efeknya, jika Somadril atau PCC ini dikonsumsi secara berlebihan, atau disalahgunakan?

Jadi, ada beberapa efek yang mungkin dirasakan oleh pengguna Somadril atau PCC. Jika obat ini dikonsumsi dalam dosis yang besar, maka efek yang akan dirasakan antara lain gangguan koordinasi, euforia, menjadi sensitif, pusing, kejang, denyut jantung cepat dan insomnia. Pada penyalahgunaan obat Carisoprodol, dimana pengguna tidak hanya menggunakannya dalam dosis besar, tetapi juga rutin, maka efek ketergantungan akan secara psikis dirasakan yang juga akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari penggunanya, yaitu antara lain sering terjadi perselisihan di lingkungan sosial, depresi, tidak bisa tidur, tidak bisa berpikir dengan benar dan gangguan konsentrasi.

Nah, gimana, kebayang dong kalo mengonsumsi obat-obatan ini secara bersamaan sekaligus, bagaimana efeknya. Ya, akan terjadi efek saling menguatkan, karena mereka semua ini bekerja mempengaruhi sistem syaraf pusat. Jadi, gak heran kalo korban berjatuhan, bahkan sampai ada yang meninggal akibat efek halusinasi obat.

Habit – Forming pada Obat Golongan Pain Killer Seperti Tramadol dan Carisoprodol

mencegah penyalahgunaan obat

Istilah Habit-Forming juga terbilang jarang terdengar di Indonesia. Tapi, sebenarnya istilah ini hanya untuk melukiskan obat-obatan, yang membuat para penggunanya merasa butuh mengonsumsi obat secara teratur. Dengan membentuk keharusan mengonsumsi obat secara teratur, maka orang tersebut bisa mengarah pada penyalahgunaan obat, yang mengakibatkan efek candu pada mereka. Tramadol dan Carisoprodol termasuk obat-obatan yang membentuk Habit – Forming pada penggunanya.

Mengapa Habit – Forming ini bisa terjadi, menurut Central of Disease Controle (CDC) hal ini salah satunya disebabkan karena kurang pahamnya masyarakat tentang penggunaan obat yang benar. Banyak masyarakat yang berpendapat bahwa, obat-obatan yang bisa diresepkan oleh dokter, adalah obat yang aman digunakan jangka panjang, dengan efek samping yang pasti masih bisa diterima, atau tidak terlalu berbahaya.

Masyarakat berpendapat bahwa, jika obat itu bisa didapatkan dengan resep dokter, maka obat itu masih aman dibandingkan obat-obatan yang memang dianggap terlarang. Karenanya, mereka akan mengonsumsi obat sejenis ini tanpa rasa cemas yang berlebihan, tidak seperti saat mereka mengonsumsi narkotika atau psikotropika. Menurut banyak orang, obat-obatan pain killer atau pereda nyeri, masih dianggap sebagai obat yang aman digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Padahal, sekalipun bukan narkotika, dan bisa didapatkan dengan resep dokter, obat-obatan ini ternyata bisa memiliki sifat yang sama dengan narkotika jika dikonsumsi dalam waktu lama. Obat-obatan ini bisa membuat penggunanya meningkatkan dosis dan kemudian mulai merasa ketagihan. Apalagi jika penggunanya mengonsumsi obat dengan dikombinasi obat lain yang efeknya saling menguatkan. Karenanya, dokter pasti akan meresepkan obat ini untuk waktu yang terbatas.

Oya, saya tidak bilang bahwa kasus penyalahgunaan obat di Kendari diakibatkan oleh Habit – Forming pada pain killer. Saya justru berpikir, kasus di Kendari adalah kasus penyalahgunaan obat yang diorganisir oleh pihak-pihak yang ingin menghancurkan generasi bangsa. Artinya mereka yang mengonsumsi obat tersebut, bukan mutlak karena mereka pengguna aktif, tetapi dikenalkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, untuk kemudian diharapkan bisa menjadi pecandu.

Maka wajar jika dikatakan bahwa Indonesia sedang gawat penyalahgunaan obat, karena baik pengedar atau pun pengguna aktif obat, tidak hanya mengandalkan narkotika dan psikotropika saja untuk mendapatkan efek obat seperti tenang atau percaya diri, tetapi juga menyasar obat-obat golongan obat keras, yang memiliki efek mirip narkotika psikotropika, dan mungkin bagi banyak orang masih bisa didapatkan dengan mudah.

Baca : Penyalahgunaan Dekstrometorfan – Obat Batuk yang Bikin Nge-Fly

Gimana Cara Kita Menghindari Penyalahgunaan Obat?

Sekali ketergantungan pada obat-obatan yang memiliki sifat adiktif, maka butuh cara khusus dan mungkin waktu yang lebih panjang untuk melepaskan diri dari obat tersebut. Sementara uang habis untuk berobat, penggunapun masih harus merasakan efek samping obat, sampai ia benar-benar lepas dari si obat.

Seperti kata pepatah lawas, namun selalu saja ada di buku anak SD, Mencegah lebih baik daripada mengobati. Nah, berikut adalah cara untuk mencegah agar kita tidak menjadi salah seorang yang suka menyalah gunakan obat, yaitu:

  • Membeli obat dengan resep dokter
  • Membeli obat di tempat menjual obat yang resmi, misalnya Apotek. Sangat tidak disarankan membeli obat keras yang harus menggunakan resep secara online
  • Meminta penjelasan pada dokter tentang obat apa saja yang diresepkan, dan bertanya adakah alternatif pengganti jika salah stau bat yang diresepkan dapat menyebabkan efek adiksi. Jangan lupa juga memberitahukan dokter tentang riwayat Anda meminum obat!
  • Meminta petunjuk penggunaan dan informasi obat pada Apoteker di Apotek, saat menebus obat. Kalo apotekernya gak ada di apotek, silakan telpon Ikatan Apoteker Indonesia, biar sertifikat kompetensinya ditarik lagi.
  • Tidak mengulang penggunaan obat, berbagi obat dengan yang lain, dan segera memusnahkan sisa obat bekas yang tidak terpakai.

Nah, kalo lagi rajin browsing-browsing, sediakan sedikit waktu di sela-sela jam stalkingin instagramnya Babang Hamish atau Raisa, untuk sekadar cari info tentang efek dari penyalahgunaan obat, biar tahu bagaimana pedih dan perihnya ketika seseorang udah ketagihan dengan sebuah obat. Yakin deh, baik Babang Hamish dan Raisa akan lebih bangga kalo yang ngestalkingin instagram mereka adalah orang yang berwawasan luas.

Cara lain, kalau kamu belom nikah, coba deh cari jodoh anak farmasi. Inshaa Allah kelak, kamu akan lebih banyak dapat info tentang obat-obatan. Suami saya gitu, setiap kali mau beli obat dia selalu kirim pesan WA ke saya. Sejak saya pasang tarif konsultasi yang cukup tinggi ke suami saya, dia mulai males konsultasi. Sekarang dia lebih percaya Google ketimbang istrinya.

Baca : ABCD Penyebab dan Bahaya Resistensi Antibiotik

Pertanyaan Lagi : Kenapa Obat yang Ditarik Izin Edarnya, Masih Ditemukan Di Masyarakat?

Sebenarnya pertanyaan ini yang di berbagai perdebatan di televisi, agak sulit untuk dipaparkan oleh banyak pihak yang bertanggung jawab pada peredaran obat di Indonesia. Mengapa obat yangtelah lama diskontiniu, masih bisa ditemukan di pasaran?

Saya baru saja nonton televisi saat menulis artikel ini. Di tanjung pinang, ditemukan penyelundupan bahan baku obat, yang terdiri dari dekstrometorfan dan Carisoprodol dalam jumlah yang besar, yang berasa dari India. Bahan baku obat ini akan diangkut ke Jakarta, untuk kemudian diracik dan diedarkan.

Beberapa waktu lalu, gudang obat PCC di Cimahi pun digerebek oleh kepolisian, dimana disana ditemukan banyak sekali bahan baku obat, yang diduga digunakan untuk meracil pil PCC. Selain itu juga terdapat bahan baku Tramadol di sana.

Sedangkan, di pasaran, kesaksian datang dari para pedagang di pasar Pramuka tentang pil PCC. Mereka mengatakan bahwa saat ini pil PCC akan sulit ditemukan, jika sebelumnya beredar dengan sangat bebas di Pasar Pramukan, bahkan dengan harga yang relatif murah. Menurut para pedagang pun, pencari pil PCC tidak sedikit, atau cukup banyak.

Jadi, kalo menurut saya sih, sulit menemukan obat ilegal PCC ini di tempat jual obat resmi seperti apotek, kecuali dijual melalui jalur yang ilegal, makanya sedikit sulit pemerintah untuk melacaknya. Yang memproduksi obat PCC ini pun bukanlah pabrik yang memiliki izin produksi, melainkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Lalu, kenapa diracik? Tentu saja karena masih banyak yang mencari. Kenapa mereka masih mencari obat ini, karena kecanduan. Kenapa kecanduan, karena selama ini yang dianggap berbahaya dan bisa bikin kecanduan hanyalah narkotika dan psikotropika, obat keras masih dianggap tidak seberbahaya narkoba. Kenapa anggapannya seperti itu? Karena masyarakat kurang informasi yang tepat dari sumber yang tepat! Siapakah nara sumber yang tepat? Apoteker. Kenapa kok masyarakat gak dapat informasi dari Apotekernya?

Hayoooo…yang Apoteker jawab!

So, Apoteker, yuk, kalopun kita tidak bisa berkecimpung di Apotek, manfaatkan lahan media informasi yang ada, untuk mengedukasi masyarakat tentang cara bijak minum obat. Bukan hanya untuk obat yang sifatnya narkotika, psikotropika, obat keras dan obat terbatas, tetapi juga obat bebas atau obat-obatan OTC. Dengan sedikit saja informasi yang disampaikan oleh Anda sampaikan sebagai Apoteker, tapi jika dilakukan oleh semua Apoteker di Indonesia, ini akan membantu masyarakat untuk paham bahwasannya obat harus digunakan dengan rasional, untuk mendapatkan efek yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.