Game Minecraft, Yes or Not?
Family

Kei dan Game Minecraft Kesukaannya, Yes or Not?

“A Creative Children is motivated by the desire to achieve, not by the desire to beat others”

Mungkin ada banyak sekali orang tua yang akan menyayangkan, mengapa saya membebaskan Kei bersenang-senang dengan Game Minecraft di Tabletnya. Sementara kampanye tentang bebaskan anak dari gadget sangat marak dilakukan, demi menjaga tumbuh kembangnya.

Sejak Kei kecil, saya melihat sesuatu yang berbeda dari Kei, tentang kegemarannya. Kei suka sekali melihat miniatur gedung atau pun apartemen, dia suka mengamati desain tata kota, yang biasa ada di pameran perumahan, suka melihat peta jalanan yang bergambar, dan sejenisnya. Sama dengan anak-anak lainnya, satu permainan yang sampai saat ini gak pernah bosan dia maikan adalah lego. Dan, sekarang legonya pun mulai yang detail.

Sudah beberapa bulan ini Kei membentuk lego tanpa bantuan orang dewasa secara penuh. Artinya, ketika dia membeli lego -noted : lego KW-, yang jumlah nya sekitar 250 pieces atau lebih, kei sudah bisa membentuknya sendiri, dengan bantuan petunjuk pemasangan. Kadang memang ada beberapa yang perlu diperbaiki, atau ada beberapa yang dia bingung dan harus bertanya. Namun, secara garis besar, mama, papa, kakek, dan neneknya tidak ikut serta dalam prosesnya langsung, hanya mengamati.

Imbas kesukaannya pada rancangan bangunan, baik asli atau lego ini, membuat dia punya game online favorite tersendiri. Awalnya memang dia dapat info dari sepupunya, yang saat itu memang suka bermain game, dan kemudian diinstal di tabletnya. Game Minecraft itu pun menjadi game yang selalu seru buat dia mainkan. Pertanyaannya, apakah game ini membuatnya ketagihan? Secara jujur saya awalnya menjawab iya. Makanya, pernah suatu waktu saya menghapus game itu dari Tabletnya. Tapi, ternyata hal itu gak berpengaruh sama hari-harinya. Aktivitasnya diganti dengan ngotak ngatik lego atau main playdoh.

Dari situ saya berkesimpulan, Kei gak sepenuhnya ketagihan ama Minecraft, artinya jika saya mengizinkan Kei bermain Minecraft dengan menetapkan aturan tertentu, Kei pasti biasa. Tapi, apakah saya harus melakukan itu? Saya diskusi ama suami saya tentang hal ini. Suami saya orang yang lebih liberal dalam pengasuhan anak. Awalnya kami berpikir bahwa, Kei harus bisa bermain musik dan menggambar, setidaknya berkesenianlah. Namun, setelah coba dikenalkan dengan alat musik, minat kei gak berkembang. Begitu juga melukis, darah seni papanya sama sekali gak mengalir ke dia. Kei tipikal orang orang cerewet dan suka mengomentari sesuatu. Ini berarti turunan saya. Jadi kita lebih fokus membangun komunikasinya dia, baik dalam bahasa Indonesia atau pun Inggris.

Lalu apa hubungannya dengan game minecraft? Gak ada sih. Minecraft lebih ke kegemaran. Karena sejak kecil dia memang suka mengamati miniatur gedung, apartemen, desain ruang dan sejenisnya, berarti minecraft ini adalah sebagian dari kesenangannya. Kesenangan ini dapat berujung dengan kreativitas, kalau diarahkan dengan baik. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja perlu dibuatkan space khusus untuk dia me time dengan kesenangannya. Jadi, kami memutuskan membolehkan Kei bermain lagi dengan minecraftnya.

Tapi, tentu tidak dengan cuma-cuma, dan ada batasannya. Adapun batasan yang kami tetapkan adalah, Kei boleh bermain minecraft, setelah dia pulang solat isya, mengaji malam, makan, dan membuat satu tugas motoriknya, seperti mewarna, menebal huruf atau menempel. Hal yang simple saja, yang penting motoriknya tetap terampil.

Kei baru fokus membuka tabletnya jam 19.00 atau 8.00 malam, dan bermain sampai jam tidurnya, yaitu jam 9 atau setengah 10. Saat bermain ini, dia ditemani oleh papanya. Iya, papanya juga membuat account sendiri, sehingga mereka tandem main minecraft bersama.

Lalu, apa saja yang didapatkan Kei setelah ia saya bolehkan main minecraft? Ini pointnya:

1. Kosakata bahasa inggrisnya dia bertambah. Setidaknya saya mencatat ada beberapa kosakata baru seperti diamond, coal, land, tree, gold, spoon, iron, soil, built, buy, sell, forest, block, wood, skeleton, mining, bone, foundation, dan beberapa lainnya yang saya lupa. Terakadang memang beberapa kata dia tak tau artinya di bahasa indonesia, seperti coal (batubara), foundation (pondasi), mining (menambang), dsb. Cuma bagi saya ini sebuah bonus dari game ini.

2. Kei dan Papa Kei punya me time berdua yang cukup seru. Papa Kei pun mulai memahami bagaimana cara berpikir Kei ketika ingin membuat sebuah produk. Awalnya, Papa Kei selalu protes kalo Kei membuat hal-hal aneh di rumah yang sedang dibangun, misalnya ada kolam renang di ruangan, ada gudang penyimpanan makanan lah, ada dua pintu menuju kamar, dsb. Tapi semakin hari Papa Kei mencoba membiarkan Kei membangun imajinasinya sendiri, tapi tentu dengan pertanyaan dan harus ada alasannya.Ini kegiatan seru lainnya selain lari pagi bersama Papa Kei atau sekadar ke Mesjid bareng.

Ini contoh bangunan yang dibuat oleh Kei :

minecraft-1

minecraft-3

minecraft-4

minecraft-5

minecraft-2

3. Kei mulai bisa menjelaskan sesuatu dan mau menjelaskan melalui video. Misalnya, bagaimana membuat ternak ayam di minecraft, bagaimana membuat lampu senter atau obor dengan tools yang ada di minecraft, bagaimana membuat jendela dan sebagainya. Ada beberapa yang saya videokan, hanya saya bingung bagaimana memasukan video tutorial ala Kei itu disini.

4. Kei menjadi lebih memahami aturan. Ini satu bonusnya. Pernah saya pas lagi sibuk banget ama kerjaan, saat work from home, dan Kei ngajakin untuk main playdoh. Saat saya hopeless, saya bilang, “oke, abang boleh, deh, main minecraft sekarang” (tanpa perasaan bersalah mengingkari aturan sendiri -_-. Dan Kei pun menjawab, “loh kok siang-siang main Tablet. Kan Abang belom solat isya, abang belom makan, abang belom ngaji. Mana boleh Abang main game minecraft sekarang. Marah doang nanti Papa,”. Saya kecele sekaligus bersyukur karena Kei paham aturan mainnya.

5. Saya mulai menetapkan aturan, kalau jam main game minecraftnya akan berkurang kalo Kei tidak mengikuti aturan baru seperti, meletakan pakaian kotor di tempatnya, meletakan piring abis dia makan ke dapur langsung, membereskan mainan, tidak lari-larian di masjid saat solat, dan makanan tidak boleh bersisa. Aturan ini untuk membiasakan Kei agar tertib. Nyatanya, untuk aturan meletakan pakaian kotor ke tempatnya dan tidak lari-larian di mesjid masih suka dilanggar, selebihnya okelah!

Lalu, apakah saya akan selamanya membolehkan Kei main game minecraft? Kita lihat nanti, bagaimana dia bisa memainkan game itu dengan bijak. Sejujurnya, kami tidak pernah mencari tau lebih jauh apa dampak positif dan negatifnya Kei bermain game minecraft melalui Google. Saya hanya menilai apa saja hasil yang saya amati, dan apa yang harus saya perbaiki. Saya rasa selama masih dalam pengawasan dan Kei mengerti aturan mainnya, tidak masalah. Justru, saya sempat berpikir, jika dengan memfasilitasi Kei dengan apa yang membuatnya senang dan berbuah menjadikannya kreatif, kenapa harus dilarang.

Gadget itu bukan untuk dihindari, tapi disikapi positif.

Mungkin suatu saat dia akan menjadi youtubers anak, yang bisa membuat tutorial membangun bentuk 3 dimensi khusus anak, dengan minecraft, atau menjadi arsitek, atau lebih dari itu, punya impian memiliki gedung dan perumahan sendiri.

Aamiin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *