ketergantungan obat
Pharmaceutical & Healthcare

Kenali Perbedaan Antara Toleransi Obat, Ketergantungan Obat dan Kecanduan Obat

Pasca hebohnya kasus penyalahgunaan obat, yaitu pil PCC, hampir semua TV bikin berita, talkshow, liputan yang berkaitan dengan pil PCC. Setiap hari, sidak ke apotek-apotek di seluruh Indonesia dilaksanain. Barusan saja, saya nonton kembali melalui Youtube, liputan wawancara dengan pejabat berwenang mengenai kasus penyalahgunaan obat, yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Tapi, saya udah gak tertarik lagi komentar sooal pil PCC nya, melainkan beberapa statement soal efek obat-obatan keras ini.

Baca: Habit Forming yang Membentuk Penyalahgunaan Obat Tramadol dan Carisoprodol

Kata-kata yang ingin saya komentari adalah kata ketergantungan obat dan kecanduan obat. Kata ini banyak sekali disebutkan karena berhubungan dengan penyalahgunaan obat. Terkadang, pembawa acara berita menyebut istilah adiksi, tapi ia menyamakannya dengan ketergantungan obat. Padahal adiksi dan ketergantungan obat adalah hal yang berbeda. Makanya, sekarang saya mau ngulas sedikit perbedaan antara tolenransi obat, ketergantungan obat dan kecanduan obat.

Kita agak serius ya di artikel yang ini, karena saya bingung nyisipin hal-hal yang gak serius di topik ini.

Sebelumnya, kenapa sih saya mau bahas soal beda ketiganya? Emangnya penting banget? Bukankah ada hal-hal lain yang lebih penting buat dibahas, misalnya seperti ngebahas video klipnya Denada dan Agnes Monika yang begitu menawan hati dan membanggakan Indonesia atau berita soal El Rumi, anak Ahmad Dani dan Maia yang sekarang lagi kuliah di London, yang katanya cuma dibiayai oleh Maia. Dari sekian banyak berita artis yang layak untuk diketahui masyarakat, mengapa saya malah milih nulis berita ini?

Karena ini bukan sekadar layak, tapi bermanfaat. Ciyeh!

Oke, kita balik lagi ke persoalan antara beda toleransi obat, ketergantungan obat dan kecanduan obat. Tiga istilah yang ujungnya selalu terkait dengan penyalahgunaan obat. Saya mau nulis ini sekalian juga untuk ngasih info kepada masyarakat yang aktif mengonsumsi satu jenis obat, saat ini mereka berada di fase mana. Sekaligus memberitahu, apa yang terjadi ketika seseorang mengalami toleransi obat, ketergantungan obat atau pun kecanduan obat.

Apa Itu Toleransi Obat

Istilah toleransi ini bermakna bagus sebenarnya di kehidupan sosial. Makna di kehidupan sosial berupa rasa saling menghormati, khususnya pada perbedaan-perbedaan di masyarakat dengantujuan menghindari diskriminasi. Di kehidupan persebritian, contohnya seperti keluarga Reza Rahadian, yang konon dalam anggota keluarga mereka terdiri dari beragam agama. Namun, menurut Reza, mereka bisa saling menjaga toleransi antar keluarga. Oke, kita tinggalkan sejenak Reza Rahadian dan keluarganya, dan kita kembali ke makna toleransi pada dunia farmasi.

Toleransi obat :

Penurunan respon seseorang terhadap obat, akibat dari penggunaan yang berulang, sehingga seringkali pengguna melakukan peningkatan dosis untuk kembali mendapatkan efek obat tersebut.

Toleransi ini bisa bersifat jangka panjang atau pun jangka pendek. Pada penggunaan jangka pendek, biasanya toleransi obat ini membuat pengguna obat akan melakukan peningkatan dosis obat dalam waktu yang singkat. Misalnya pada penyalahgunaan obat kokain. Pada saat penggunaan pertama kali, pengguna merasakan efek euforia dan peningkatan denyut jantung. Kadang pengguna menaikan dosis pada penggunaan kedua dengan harapan ada peningkatan efek secara positif, namun terkadang mereka tidak mendapatkan efek positif dari obat, sesuai apa yang mereka harapkan.

Berbeda pada toleransi jangka panjang, dimana pengguna obat akan melakukan adaptasi terhadap dosis awal untuk jangka waktu yang panjang, sebelum akhirnya mengalami penurunan respon pada obat tersebut, dan kemudian melakukan peningkatan dosis. Hal ini sering terjadi pada para pengguna opiat. Setelah beberapa lama menggunakan opiat, pengguna obat ini akan melakukan peningkatan dosis, atau bahkan mencari cara pakai lain yang dianggap lebih cepat mencapai efek, seperti dengan cara menghirupnya atau menyuntikannya, yang berujung pada penyalahgunaan obat.

Semua obat berpotensi menyebabkan efek toleransi. Namun, toleransi tidak selalu terjadi pada semua efek obat. Misalnya, pengguna opiat akan merasakan penurunan respon terhadap obat sehingga efek euphoria yang diharapkan akan berkurang, tapi efek samping opiat yang mempengaruhi sistem pernapasan tidak mengalami penurunan. Akibatnya, saat dikonsumsi dalam dosis yang tinggi, maka efek samping ini akan meningkat, dan menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Tak jarang, pengguna opiat meninggal justru karena efek samping obatnya, yaitu gagal napas.

Apa Itu Ketergantungan Obat?

Dalam istilah medis, seperti dilansir dari laman drugabuse.org, yang dinamakan ketergantungan obat adalah :

Kondisi fisik dimana tubuh seseorang telah menyesuaikan diri dengan kehadiran obat, dan ketika ia berhenti mengonsumsi obat tersebut secara tiba-tiba, maka ia akan mengalami gejala yang tidak enak pada tubuhnya, atau disebut juga sindrom atau gejala putus obat.

Pada kasus penyalahgunaan obat, seringkali antara ketergantungan obat dengan kecanduan obat terlihat serupa, tetapi sebenarnya berbeda. Pada kasus ketergantungan, pengguna bisa saja masih mengonsumsi obat dalam jumlah yang dianjurkan, dalam jangka waktu lama tanpa melakukan penyalahgunaan obat tersebut. Obat-obatan yang menyebabkan ketergantungan pun, tidak selalu merupakan obat-obat yang menyebabkan kecanduan.

Banyak penderita yang mengalami ketergantungan terhadap steroid, yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah kesehatan seperti nyeri, asma, dll. Setelah sekian lama terapi dengan steroid, lalu mereka berhenti mengonsumsi, maka akan timbul gejala putus obat, seperti rasa lelah berlebihan, nyeri pada sendi, dsb. Tapi, perlu diketahui bahwasannya, steroid bukan obat yang berpotensi sebabkan kecanduan.

Untuk obat-obat terlarang atau obat keras dengan resep dokter, ada yang bisa menyebabkan ketergantungan dan juga kecanduan. Seseorang yang ketergantungan pada morfin misalnya, ia belum tentu kecanduan pada morfin. Misalnya, pada kasus penderita kanker yang menerima morfin untuk mengatasi rasa sakit, ia tidak dalam posisi kecanduan. Namun, jika ia menghentikan penggunaan morfin, maka ia juga akan merasakan efek putus obat.

Maka dari itu, proses penghentian obat pada kasus ketergantunagn obat, harus dilakukan di bawah pengawasan dokter. Biasanya, dokter akan melakukan penurunan dosis secara perlahan sampai tubuh bisa menerima secara normal. Cara lain adalah dengan mengganti obat yang memiliki efek sejenis, namun cara kerja lebih panjang. Proses lepas obat pada pasien dengan ketergantungan obat dapat berjalan hitungan minggu atau bulan, tergantung selama apa pasien telah mengonsumsi obat tersebut.

Baca:Efek Mengonsumsi Dumolid (Nitrazepam) – Psikotropika yang Membawa Tora Sudiro ke Tahanan

Apa Itu Kecanduan Obat?

Menurut National Institute on Drug Abuse (NIDA) :
Kecanduan obat merupakan masalah kronis pada persepsi otak, dimana pengguna obat akan melakukan pencarian atau mengonsumsi obat dengan tidak lagi memperdulikan efek bahaya dari obat tersebut.

Pengertian lain, kecanduan merupakan sebuah keinginan yang tidak terkendali atau berlebihan untuk menggunakan obat. Pada kasus kecanduan, hal ini bisa berlangsung dalam jangka waktu lama dan berisiko untuk kembali lagi walaupun sudah dinyatakan sembuh.Pada kondisi kecanduan, otak orang yang melakukan penyalahguaan obat, sudah tidak dapat lagi berpikir rasional. Kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor paparan obat berulang, dan peningkatan dosis terus menerus, sehingga obat-obatan ini mengelabui otak untuk memprioritaskan konsumsi obat, dibandingkan aktivits apapun, termasuk aktivitas untuk bertahan hidup seperti makan dan minum.

Orang yang kecanduan zat atau obat, mereka mungkin sempat berpikir sesaat untuk berhenti mengonsumsi obat atau zat tersebut, tetapi tak butuh waktu lama untuk otak membalikan persepsi orang tersebut, sehingga ia akan kembali mengonsumsi obat-obatan tersebut. Inilah efek yang mengerikan dari kecanduan.

Pada kasus ketergantungan obat, otak masih mampu dibawa untuk berpikir secara rasional, sehingga sekalipun seseorang ketergantungan, mereka masih menolak untuk melakukan tindakan yang membahayakan, seperti merampok untuk mendapatkan obat tersebut. Berbeda dengan kecanduan, yang membuat penderitanya akan melakukan segala hal untuk mendapatkan obat, sekalipun harus melakukan tindakan kejahatan.
See…bisa dong dilihat perbedaan di antara ketiganya?

Jadi bagi para pewarta, besok-besok mungkin sudah bisa mengucapkan dengan statemen yang benar, kalo udah tau perbedaan ini kan. Misalnya:

“Karena ketergantungan obat, seorang remaja 16 tahun di Kalimantan, merampok Bank Indonesia saat malam hari, dengan harapan mendapatkan uang yang lebih banyak. Karena, dia berpikir, semua Bank saja uangnya disetor lagi ke Bank Indonesia, pasti duit Bank Indonesia lebih banyak!”

Ini statement yang salah. Harusnya karena kecanduan obat. Statement di atas juga lebay sebenernya. Karena agak aneh aja ya merampok ke Bank Indonesia.

Paham kan, teman!

2 thoughts on “Kenali Perbedaan Antara Toleransi Obat, Ketergantungan Obat dan Kecanduan Obat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *