Melahirkan Normal dan Menyusui, Ciri Ibu yang Sempurna. Iyakah?
Evita's Comment Family

Melahirkan Normal dan Menyusui, Ciri Ibu yang Sempurna. Iyakah?

There’s no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one.” – Jill Churchill

Di sepanjang minggu ini, beragam unek-unek ada di pikiran saya. Dari kemarin pengen banget bisa nulis tentang semuanya. Tapi, berhubung satu dan lain hal, jadi ketunda mulu. Dan, hari ini, kebetulan ada kesempatan nyuri waktu pas Aisyah tidur, buat nulis blog. Oya, ada dua hal yang melatarbelakangi saya ingin menulis artikel ini, yaitu:

  • Baru-baru ini, sebuah status di facebook dari seorang ibu, sempet menjadi viral. Status tersebut berisi pernyataan si ibu, tentang betapa bangganya dia bisa melahirkan kedua anaknya dengan proses persalinan normal. Sampai disitu, status tersebut tidak ada masalah. Namun, tambahan pernyataan berikutnya mulai menuai kontroversi. Yap, pasalnya si ibu bilang, kalau seorang wanita melahirkan cesar, dia belum menjadi ibu sesungguhnya, ibu yang sempurna.

    Untuk lebih jelas tentang statusnya, saya capture ada screenshoot fotonya, ya!

  • Alasan kedua adalah, saat saya berkunjung ke dokter laktasi untuk konsultasi masalah ASI saya, di sana saya sempat ngobrol ama seorang ibu, yang juga akan konsultasi. Si ibu lagi hamil anak kedua. Alasannya dia konsultasi karena, dia mau anak keduanya nanti, dapat ASI ekslusif. “Anak pertama saya campur sufor, mbak, karena saya sempat sakit lama, jadi ASI mampet dan anak bingung puting. Saya nya sih enjoy jalanin, tapi kok, lingkungan saya yang gak terima ya, mbak? Sakit hati aja dibilang ibu yang gak mau nyusuin anak, mbak. Plus diceramahin ini dan itu!”

Dari dua hal ini, saya tertarik untuk jujur-jujuran dengan hati saya sendiri, sebenernya seperti apa, sih, saya menggambarkan tentang seorang ibu yang sempurna, atau mungkin ibu yang sesungguhnya, atau apalah istilah lainnya. Terus terang, melihat dua pernyataan di atas, saya kok jadi merasa bersalah. Ternyata, selama ini pikiran saya tentang seorang ibu yang sempurna itu dangkal sekali.

Melahirkan Normal Tidak Lantas Membuat Saya Lebih Sempurna

Dua anak saya memang terlahir melalui persalinan normal. Kalau dibilang saya bahagia bisa melakukannya, pasti iya. Tapi, kalau dibilang saya bangga, maka jawabannya tergantung keadaan.

Tubuh saya sangat kurus. Dari jaman kuliah, teman-teman saya bahkan sangsi kalau nantinya saya bisa melahirkan normal. Teman-teman saya meramalkan saya akan melahirkan 3 orang anak dan kesemuanya cesar. Oh, kejam sekali dunia saat saya diramal sedemikian rupa! Itu semua karena badan saya yang kurus dan pinggul saya yang kecil banget. Ketika saatnya saya bisa melahirkan normal, tentu saya bangga bisa membantah itu semua. Saya bangga, karena saya bisa membuktikan bahwa, tubuh yang kurus dan pinggul yang ramping, bukan kendala untuk melahirkan normal. Saya bangga, karena kelak saya akan menginspirasi artis-artis seperti Andien, Ayu Dewi, Atiqah Hasiholan, dan mungkin nanti Raline Syah untuk optimis melahirkan secara normal juga. Stop sampai disitu kebanggaan saya.

Baca : Persalinan Normal Alami VS Persalinan Normal Induksi

Namun, hal ini tidak membuat saya merasa lebih baik dari wanita lain yang berbadan lebih gemuk dari saya, namun tidak melahirkan secara normal. Saya masih jauh dari kata ibu yang sempurna.

Dulu, dulu banget, ketika ada teman atau saudara yang melahirkan secara cesar, saya mungkin akan menanyakan ke mereka, “kenapa kok dicesar?” Terkadang, pertanyaan ini datang lebih dahulu dibandingkan dengan ucapan, “selamat, ya!”

Semuanya berubah di saat saya mulai melihat banyak teman yang melahirkan dengan cara cesar, namun jiwa keibuan mereka jauh lebih besar, dibandingkan saya yang melahirkan normal. Di banyak sisi, saya banyak menyontoh mereka tentang cara merawat anak.

Saya yakin, bagi banyak wanita di dunia, cesar bukanlah kemauan mereka. Cesar merupakan pilihan yang harus diambil, ketika opsi lainnya tidak lebih baik untuk diambil. Setiap calon ibu sudah memikirkan dengan matang, cara terbaik untuk melahirkan anak-anak mereka, dimana setiap cara ada dasar kebutuhannya masing-masing. Hasil akhirnya, semua ibu yang melahirkan anak-anaknya, pasti memiliki pengorbanannya masing-masing, dan tidak boleh ada yang mengatakan bahwa ia lebih baik daripada yang lain, atau pengorbanan ia lebih besar daripada yang lain.

Melahirkan normal tidak lantas membuat saya lebih merasa menjadi ibu yang sempurna dari yang lainnya. Pasalnya, ada banyak juga ibu yang melahirkan anaknya dengan normal, namun menyia-nyiakan anaknya tersebut. Coba aja kita dengerin berita yang sering muncul di TV, “seorang bayi ditinggalkan ibunya, masih dengan tali pusar. Diduga sang ibu melakukan persalinan seorang diri.” Berita kayak gini mungkin bukan sekali dua kali kita dengerin. Ibu tersebut semestinya lebih bangga. Bisa melahirkan normal bahkan tanpa bantuan Bidan atau dokter sekalipun. Tapi, apa iya itu ibu menjadi ibu yang sempurna, ibu yang sesungguhnya hanya karna ia bisa melahirkan normal?

Ternyata, proses persalinan hanya merupakan gerbang utama untuk saya menuju ibu yang sesungguhnya, menuju ibu yang hebat, menuju ibu yang sempurna. Ada banyak hal yang mungkin akan terbantahkan, bahwa benar saya adalah ibu yang hebat, ketika saya tidak bisa menjaga dan mendidik anak saya dengan baik. Bahkan, bantahan ini bisa dilakukan oleh para ibu, yang melahirkan secara cesar, namun bisa menjaga anak-anaknya dengan lebih baik.

Menyusui Adalah yang Terbaik, Tapi Tugas Ibu Tidak Selesai Disitu!

Pertemuan saya dengan si ibu A di klinik laktasi membuka mata saya, yang selama ini sering mengasihani ibu-ibu yang tidak menyusui bayi-bayi mereka. Saat anak pertamanya lahir, si Ibu terpaksa berlama-lama di rumah sakit karena ia preklamsia. Si bayi lahir dengan berat badan lahir rendah. ASI belum keluar dan dipakailah sufor sebagai gantinya, karena ibu pun masih lemah. Drama berlanjut dengan si bayi yang bingung puting, sampai akhirnya ASI sang ibu mulai menurun.

Di dalam rumah, ia tidak mendapatkan dukungan untuk menyusui, karena baik orang tuanya atau pun mertuanya menyarankan menambah sufor untuk mengejar berat badan si kecil. Di luar rumah, pandangan ibu-ibu lain yang sukses memberikan ASI seperti melihatnya dengan pandangan yang mengasihani, menghakimi, menyayangkan dan sebagainya. Dia juga telah mencoba untuk mencari donor ASI sebisa mungkin. Saya jadi merasa berdosa, mungkin saya pernah menjadi satu di antaranya.

Saya tanya apakah ia pernah coba melakukan relaktasi?

Si Ibu ini ngejawab bijaksana banget. Oya, emang muka si ibu ini bijaksana banget, beda ama saya. “Mbak, saya tau sih, ASI itu yang terbaik buat bayi. Tapi, sebagai ibu, saya juga tau apa yang terbaik untuk bayi saya pada saat itu. Siti Aminah, ibunya Nabi Muhammad, tidak menyusui Nabi Muhammad, bukan karena ia tidak sayang, kan?” Saya diam denger dia ngomong gitu. Iya, soalnya saya tuh gak tahu, kenapa ya Siti Aminah dulu menggunakan bantuan ibu lain, untuk menyusui Nabi Muhammad.

Sekarang si ibu yang lagi hamil 8 bulan itu ingin konsultasi ASI sejak hamil, agar sukses menyusui di anak yang kedua. Hal ini dilakukan untuk si bayi, dan juga untuk mengobati luka hatinya yang dianggap tidak ingin menyusui bayi pertamanya dulu. Dari sini saya berpikir, mungkin tidak ada seorang ibu pun yang sengaja tidak mau menyusui bayinya pada saat itu. Mungkin ada alasan-alasan tertentu yang saya tidak tahu apa, yang mungkin bagi mereka, hal itu jauh lebih baik bagi ibu dan si bayi.

Keadaan saya dan dia dulu mungkin tak jauh berbeda. Abang Kei harus mempercepat pemberian MPASI di usia 5,5 bulan, karena stok ASIP saya berkurang, dan juga atas saran dokter laktasi, untuk mengejar berat badannya yang berada di garis kuning.

Baca: Pengalaman Memberikan ASI pada Abang dan Aisyah yang Penuh Drama

Mungkin bagi sebagian ibu akan berpikir, kenapa saya tidak berusaha setengah bulan saja untuk tetep memerah ASI saya, guna mencukupi kebutuhan abang, toh cuma setengah bulan. Tapi saya mengikuti saran dokter laktasi untuk memberikan abang jeruk baby di usia 5,5 bulan. Bukan karena saya tidak mau berusaha, tapi karena saat itu saya melihat kemampuan saya dan kebutuhan Abang. Abang tetap menyusui, bahkan sampai 2 tahun lebih, walaupun untuk ASIX hanya sampai 5,5 bulan saja. Saya memang tidak sempurna memberikan ASIX pada Abang Kei, tapi saya yakin, peran saya sebagai seorang ibu tidak berkurang sedikitpun.

Seperti Apa, sih, Ibu yang Sempurna?

Sulit sekali mendefinisikan makna kalimat ibu yang sempurna. Bagi saya, tentu ibu saya sempurna. Meskipun di usia 3 bulan lebih sedikit, beliau mengatakan sudah menambahkan pisang ke dalam makanan harian saya. Bagi suami saya, mungkin ibunyalah yang sempuna, walaupun saat itu dia juga diberikan susu tambahan. Atau, bagi keponakan saya, ibunyalah yang sempurna, sekalipun ia harus dilahirkan dengan proses cesar.

Tapi, saya selalu berpikir bahwa bagaimana cara ibu melahirkan dan apakah ibu menyusui atau tidak, bukan tolak ukur utama bahwa ia akan menjadi ibu yang sempurna dibanding yang lain. Dua hal itu hanyalah satu dari sebagian banyak tanda besarnya kasih sayang ibu untuk anaknya.

“Ibu yang sempurna itu apa ya, kak?” tanya saya ama suami saya.
“Ibu yang mampu membekali anaknya dengan pemahaman agama yang baik. Yang membuat anak tumbuh dengan karakter yang positif. Yang menjadikan anak-anak mereka memiliki moral yang baik dan yang membimbing anak untuk memiliki mental yang kuat, sehingga anak menjadi anak yang soleh atau soleha, beretika, mandiri dan tahan banting,”

Keren kan jawaban suami saya. Itu suami saya baca dari sebuah sumber di Google. Bukan pemikiran dia sendiri.

“Ade udah berusaha jadi ibu yang sempurna belom ya, kak?
“Lumayan, sih, kecuali yang bagian malem-malem ade suka mantengin lambe turah ama makrumpita!”
“Jadi, belom sempurna dong, ya?”
“Ya udah lah, dek! Di dunia ini kan gak ada yang sempurna. Kecuali, itu cewek yang digambarin sama Andra and the Back Bone!”

Kalo ini saya tanya ke Abang.

“Bang, Mama udah jadi ibu yang sempurna, belom?”
“Sempurna apa, sih, Ma?”
“Apa ya? Udah baik belom sama Abang?”
“Ohh…iyalah, kan Mama baik. Kan Mama bolehin Abang main ipad kalo Sabtu Minggu. Trus kemaren Abang bobo kemaleman juga gak diomelin ama Mama. Trus Mama juga baik, gak marah pas sayur bayemnya Abang gak makan, Abang gak doyan!”

Yeayyy…definisi sempurna bagi si Abang begitu sederhana. Mamanya harus ikutan seminar parenting Elly Risman kayaknya. Perjalanan untuk menjadi ibu yang sempurna masih panjang. Sebuah proses yang tanpa garis finish.

4 thoughts on “Melahirkan Normal dan Menyusui, Ciri Ibu yang Sempurna. Iyakah?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *