membahas penyakit dan kematian pada penderita gerd
Family

Membahas Penyakit dan Kematian pada Orang dengan GERD dan Ansietas, Yes or No?

Suatu pagi, ntah kapan, saya membaca kematian seorang selebritis yang tiba-tiba akibat sebuah penyakit. Kematian ini cukup menghebohkan. Di perjalanan menuju kantor, dengan tanpa ada pemilahan kata, saya bicarakan tentang hal tersebut ke suami saya. Saya membahas penyakit dan kematian yang disebabkan oleh penyakit tersebut dengan santai seolah itu tidakakan menjadi masalah untuk dia. Reaksi suami saya awalnya hanya diam di atas motor. Tapi, tepat jam 11 siang, ia mengirimkan pesan kepada saya kalau ia akan pulang lebih cepat, karena tiba-tiba sensasi asam lambung dan cemas itu muncul.

“Kenapa? Kok bisa tiba-tiba naik?”
“Gara-gara si seleb A meninggal!”
“Whatsss….???”

Ada lagi situasi dimana saya baru saja membaca sebuah blog tentang seorang penderita GERD yang melakukan banyak sekali pemeriksaan laboratorium guna mendapatkan kepastian akan penyakitnya. Waktu itu ia menjalani pemeriksaan lab untuk beberapa penyakit yang menurut saya tidak perlu ia lakukan. Saya bincangkan hal tersebut ke suami saya sambil tertawa-tawa. Dia bertanya, kenapa menurut saya orang tersebut tidak perlu melakukan test tersebut. Saya bilang, ya itu penyakit spesifik penyebabnya dan gejalanya, gak perlu lah!

“Emang gejalanya apa?” katanya.
Saya sebutkan beberapa gejala yang saya tahu. Reaksi suami saya setelah itu langsung merenung.
“Kenapa?” Saya tanya.
“Mungkin tidak kalo ternyata kakak mengalami penyakit yang sama. Perlu tidak kakak periksa lab untuk memastikan. Kakak juga ngerasain gejalanya nih!”

Saya nyengir. Ansietas juga nular ternyata!

Baca: Merawat orang dengan GERD dan Ansietas

Pun, ketika saya diharuskan melakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter terkait kehamilan saya, suami saya adalah orang yang paling cemas dengan hasilnya. Hal ini mengingat beberapa penykit yang saya harus periksakan adalah penyakit yang sifatnya menular. Masa-masa menunggu hasil test, saya menghadapinya dengan santai. Tapi tidak dengan suami saya. Dia gelisah sepanjang malam. Sampai hasil test keluar dan hasilnya bagus, baru dia bisa tersenyum. Padahal, sebelumnya saat dia terkena DBD, saya sudah menegaskan bahwa dia pun telah menjalani serangkaian test kesehatan dengan hasil negatif untuk penyakit-penyakit yang menular tersebut.

“Kalo kakak yang sakit, kakak gapapa. Tapi kalo sampai ade yang ketular atau ke dedek di perut, kakak gak mau. Kakak terlalu cinta!” begitu katanya.

Cieh…langsung hujan air mata eikeh!

Kecemasan Mereka Terhadap Penyakit dan Berita Kematian

Bagaimana pun kecemasan itu sudah ada dalam diri mereka. Jangankan saat mendnegar sebuah nama penyakit, tanpa perlu mendengar pun, mereka sering merasa cemas tiba-tiba. Mereka sering merasa ada diambang kematian, berhalusinasi, kadang bermimpi buruk. Nah, jika ditambah dengan mendengar secara nyata nama penyakit, gejala atau ada orang yang meninggal akibat penyakit tersebut, maka mereka akan lebih merasa drop. Bahkan, sensasi cemas berlebihan ini bisa dirasakan dalam waktu yang lama. Sebagian mengambil tindakan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter atau lab, karena benar-benar cemas.

Saat mereka belum bisa mengontrol pikiran mereka, maka istilah penyakit atau berita kematian ini akan menjadi seperti jarum yang siap menusuk mereka, yang menyebabkan nyeri di dada, sesak dan gangguan lainnya. Akan sulit untuk Anda yang mendampingi mereka untuk mengembalikan mereka ke keadaan yang normal. Yah, setidaknya butuh beberapa hari. Apalagi jika Anda sendiri bukan orang yang paham tentang penyakit yang Anda baru saja katakan ke pasangan Anda. Yang ada justru Anda ikutan cemas.

Karena latar belakang saya dunia kesehatan, maka setidaknya saya memiliki pengetahuan tentang penyakit apa yang sedang saya bahas dengan suami saya. Sehingga ketika kondisi dia drop akibat bahasan penyakit yang saya bawa tanpa sengaja, saya bisa dengan cepat menjelaskan apakah ia termasuk seorang yang berisiko atau tidak. Biasanya ini cukup membuat ia tenang kembali.

Sejak saya merasa bahwa suami saya akan menjadi cemas hanya mendengar istilah penyakit saja, sejak itu saya memutuskan untuk mengurangi obrolan tentang hal tersebut, atau mengondisikan waktu yang tepat untuk membahasnya. Pun, dalam artikel ini, saya mencoba tidak menyebutkan penyakit apa saja yang kami bahas, untuk mencegah pembaca mencari tau tentang penyakit tersebut terlalu jauh.

Baca : Sebagai pasangan orang dengan asam lambung dan ansietas, saya pun lelah!

Bagaimana Cara Membahas Penyakit dan Kematian tanpa Harus Membuat Mereka Cemas?

Ya, adakalanya memang kita akan ada di tahapan, dimana kita memang harus membahas soal penyakit. Bisa jadi itu adalah penyakit yang sedang kita alami, atau orang tua atau siapapun di dekat kita. Bagi saya, kehidupan harus diupayakan senormal apapun, termasuk untuk suami saya. Walaupun saya tau dia akan cemas ketika membahas penyakit atau membahas soal kematian orang di sekitar, tetapi ia harus melewati tahapan itu tanpa harus terus menghindarinya.

Baca : Self Hypno untuk Mengatasi Kecemasan

Dan, saya pun merasa tidak boleh memanjakannya dengan mengikuti selalu kecemasan dia. Saya hanya membutuhkan cara agar dia dan pikiran cemasnya menerima berita tentang penyakit atau kematian dengan cara yang tidak negatif. Ini beberapa cara yang biasanya berhasil saya terapkan

  • Sebelum membahas tentang sebuah penyakit, ada baiknya kita mengenal penyakit GERD dan Ansietas itu dulu. Sehingga jika tiba-tiba pasangan atau keluarga yang memiliki masalah kecemasan ini terserang panik tiba-tiba, Anda tau meredakannya.
  • Penyakit atau istilah apapun tentang penyakit yang ingin Anda bahas, sebaiknya juga Anda sudah paham tentang penyakit tersebut. Sehingga jika ada pertanyaan tentang penyakit tersebut, Anda bisa menyampaikan dengan benar, tanpa harus menambah kecemasan.
  • Jangan membahas penyakit dan kematian, disaat kondisi pasangan atau keluarga Anda yang memiliki GERD atau pun ansietas sedang dalam keadaan kurang fit.
  • Bicara dengan bahasa yang paling sederhana dan tidak menakut-nakuti. Ini tuh sama kayak cara kita bicara dengan anak tentang jarum suntik, butuh memilih kata yang mudah dipahami tanpa membuat anak menjadi jadi takut disuntik nantinya.
  • Kalau memang lebih baik tidak usah membahas penyakit dan kematian, jangan membahas.
  • Kalau pasangan atau keluarga Anda yang justru terlebih dahulu bertanya, jika Anda paham, jelaskan. Namun jika Anda pun tidak paham, lebih baik menunda obrolan sampai Anda paham terlebih dahulu. Anda bisa mengalihkan dnegan mengatakan, “ntar deh, aku cari tahu ya biar infonya valid. Mending jalan-jalan dulu, yuk!”

Saat ini suami saya sudah lebih tenang kalo membahas penyakit dan kematian. Dulu, ketika pembahasan soal kematian datang dari luar dan saya ikut mendengarnya, apalagi bahasannya terkait penyakit-penyakit yang gejalanya serupa dengan GERD, saya biasanya mengambil alih pembicaraan dan berupaya untuk mebelokan topik, atau mengajak suami saya menjauh dari diskusi tersebut. Tapi, kalo sekarang saya lebih percaya dia sudah lebih bisa mengontrol kecemasannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.