Menjadi good digital content writer
Writing and Digital Marketing

Menjadi Digital Content Writer yang Kece, Ini Tipsnya!

To be a good digital content writer, we have to write a good content. And the good content is, anything that adds value to the reader’s life!

Saat ini saya memang lebih banyak berkecimpung di dunia menulis online. Hampir 4 tahun saya telah meninggalkan dunia menulis di media cetak, baik di majalah atau buku. Jadi, dalam blog saya kali ini, rencananya memang saya akan lebih banyak membahas tentang bagaimana cara untuk menjadi penulis online, atau bahasa cakepnya digital content writer.

Actually, saya sendiri sih juga belom jago dan masih belajar. Ternyata menulis online ini gak semudah yang saya bayangkan. Jauh berbeda dengan ketika kita menulis di majalah atau pun buku. Menulis online, bukan sekadar menulis – mempublikasikan dan beres. Pokoknya, menulis digital tidak semudah seperti Mario Teguh memberikan quote tentang kehidupan. Enggak semudah itu, men!

Tahun 2009 adalah awal mula saya berkenalan dengan blog. Waktu itu saya punya satu account di Multiply.com. Di sinilah awal mula saya berkenalan dengan banyak blogger, mulai dari yang keren sampe yang gak keren, mulai dari yang alim sampe pelaku cyber crime. Di sini juga saya sadar, ternyata dunia maya itu bukan hanya sekadar Ahmad Dani, Al, El dan Dul aja, tapi penuh warna. Saya mulai tertarik untuk cari tahu lebih banyak. Kebetulan suami saya juga memiliki minat yang sama dengan saya, jadi kita bisa bergandengan tangan dan belajar bersama dengan mesra!

Tahun 2011, saya mulai mendapatkan tawaran sebagai penulis freelance di salah satu media online di Indonesia. Yang saya lakukan saat itu hanya membuat artikel dan mempublikasikannya ke website. Awalnya saya kagok, karena saya diminta untuk langsung menulis di website. Tapi, suami saya berupaya menyemangati saya waktu itu. Setiap saya mau menulis, dia kirim pesan lewat BBM “Caiyo, Fighting…fighting!” Kata-kata semangatnya selalu sama, secara dia dulu lagi suka-sukanya ama filem Korea Full House.

Tahun 2013, saya mulai berkenalan dengan dunia kepenulisan online lebih dalam. Saya mulai mempelajari WordPress dan semua plugin yang ada di dalamnya. Saya mulai menantang diri saya untuk menulis dengan bahasa HTML untuk penulis, dan belajar sedikit demi sedikit tentang CSS.

Di tahun yang sama yaitu 2013, saya mulai mencari tahu tentang Search Engine Optimize (SEO), khususnya untuk SEO yang diaplikasikan di website wordpress, dan sedikit demi sedikit mulai mempelajari tentang content strategy. Kata suami saya, saya perlu mengenal SEO ini, karena ini akan menjadi kendaraan saya menuju ke pembaca blog saya. Karena saya udah memilih dia jadi imam saya, jadi saya percaya dengan kata-katanya. Maka, saya pun mulai belajar tentang SEO. Waktu itu saya bekerja di sebuah perusahaan di bidang kesehatan, yang banyak menerapkan aplikasi digital.

Tahun 2014 saya mulai jarang aktif di sosial media pribadi saya, karena saya justru mencoba untuk menghandel sosial media milik perusahaan. Dan, saya nyatakan non aktifnya saya di sosial media sekian lama, adalah kesalahan besar yang pernah saya lakukan. Kenapa begitu? Karena, ketika saya mulai aktif lagi, postingan Lambe Turah udah banyak banget, alhasil saya kelamaan ngescrolling ke bawah. Itu cuma satu alasan. Alasan yang lebih penting adalah, karena saya jadi tidak pernah memanfaatkan sosial media untuk memarketingkan tulisan saya selama ini.

Oke, balik lagi ke digital content writer, dari beberapa tahapan yang pernah saya jalani, saya mencoba mencari informasi, apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjadi seorang digital content writer? Sebenarnya, sampai sekarang pun saya masih terus mencari, karena belum benar-benar tahu sampai ke akar-akarnya. Di beberapa kumpulan tips tentang cara menjadi digital content writer dari orang–orang yang telah sukses sebagai digital content writer, ini dia yang menurut saya menjadi point pentingnya.

1. Memiliki Ide Original Baik untuk Website atau Artikel

idea-lamp Ini tahapan paling sulit tapi menyenangkan. Memiliki ide orisinil bukan berarti kita adalah yang pertama menemukan ide tersebut. Ide kita boleh saja sama dengan yang lain, namun apa yang kita paparkan bisa jadi berbeda. Misalnya, Saya membuat website dengan dua tema, yaitu tema kefarmasian dan tema tentang dunia tulis menulis. Dua ide ini saya gabungkan, untuk memberitahukan identitas saya, yang kelak juga menjadi ciri khas saya.

Saya ingin memberitahukan bahwa, Apoteker tak selalu selamanya berpikir dan menulis dengan cara ilmiah. Mereka juga boleh menulis dengan cara yang sedikit nyeleneh, santai, agak absurd, dan sebagainya. Apoteker seperti saya misalnya, kalau disuruh nulis ilmiah, butuh waktu lama, saking lamanya sampai-sampai Nobita, Giant dan Suneo lulus SD. Walau saya yakin banyak diluar sana Apoteker yang bisa menulis, saya cukup percaya yang mengombinasikan dua tema ini dalam satu website tidak banyak. Saya hanya perlu malakukan beberapa modifikasi dari cara saya menulis.

2. Punya Perbedaan Style Dalam Menulis

Penulis yang punya style asik, nyeleneh, atau lucu banyak banget. Tapi, yang latar belakang pendidikannya dari orang kesehatan, masih belum banyak sih menurut mama saya, yang jarang buka internet. Dari situ saya mulai termotivasi. Banyak orang berpikir bahwa, masalah kesehatan jangan dibuat jadi bahan becandaan. Jadi sebaiknya ditulis dengan cara yang formal dan cenderung serius.

Walaupun belum berhasil banget mengombinasikan antara gaya tulisan yang santai dengan tema kesehatan, tapi saya pantang menyerah. Saya akan terus berusaha membudiyakan tulisan kesehatan yang lebih humoris dan friendly, dan tentunya saya akan tetap menyayangi keluarga saya. Seperti kata quotenya motivator kita Mario Teguh – Golden Ways, “Utamakan keluarga, ingat ketika Anda runtuh dan gagal, keluargalah tempat Anda kembali!”

Kalo ada yang bilang quote saya gak nyambung ama tulisan saya, gapapa. Yang penting quotenya ini bisa menginspirasi banyak orang di Indonesia, untuk belajar lebih banyak dari Mario Teguh, sebelum membuat quote.

3. Paham Audience, Keyword dan Kompetitor

Ya, ya, ya, Saya tahu pasti bahwa banyak penulis begitu idealis. Mereka menyebut bahwa mereka menulis adalah untuk diri mereka. Jika orang lain suka tulisan tersebut, itu bonusnya. Saya sepakat, loh! Dulu-dulu saya kalau nulis mah gak peduli pembaca mau suka apa nggak, mau bete ama tulisannya atau nggak, bermanfaat buat orang atau nggak. Sampai pada masanya saya berpikir bahwa, saya harus melakukan sesuatu, yang tidak hanya menyejukan hati saya tetapi juga hati orang banyak.

Pada akhirnya saya perlu berpikir, bagaimana agar tulisan saya tidak hanya dinikmati sendirian, tapi bisa memberikan manfaat untuk orang banyak dabn yang penting orang nyamansaat membaca tulisan saya.

Yang pertama saya lakukan tentunya adalah mengurangi typo ya, cyn! Secara saya ini adalah rajanya typo. Saya juga gak ngerti kenapa suka banget ngelakui hal gak penting ini. Saya pikir alasan awalnya karena huruf di keyboard saya suka keras pas diteken. Pas saya ganti keyboard, ternyata masalahnya masih ada. Jadi masalahnya bukan di keyboard tapi ada di saya. Saya yang saking semangatnya nulis, pengen cepet selesai, tapi gak mengutamakan kenyamanan. Saya harus mulai berubah!

Untuk tips kedua dan selanjutnya, saya ambil dari salah satu website tentang menjadi penulis entrepreneur. Disebutkan bahwa, keyword menjadi sangat penting. Jadi jangan malas untuk buka-buka google trend untuk nemuin apa yang lagi trend di dunia kesehatan dan keyword apa yang banyak dicari. Selain itu, kita juga harus memahami apa yang sedang dilakukan kompetitor. Konten apa yang sedang dia bahas dan diminati, dan sebagainya. Dengan mengetahui hal-hal ini kita memiliki satu gambaran tentang artikel apa yang harus kita miliki. Sekalipun blog ini sifatnya personal blog, rasanya saya juga harus mulai menerapkan hal-hal di atas, sih!

4. Digital Content Writer Sebaiknya Paham SEO

Ini tuh terus aja jadi pro dan kontra. Beberapa orang bilang gak butuh, beberapa orang bilang SEO itu seperti kata lagu, suka memberikan janji-janji-janji tapi ingkar jua! Bahkan, ujung-ujungnya kita harus beriklan juga. Saya setuju. Capek lo beneran kalo kita ngomongin SEO, gak ada habisnya. Mana setiap hari harus masak, nyuci, ngelapin lift di rumah, mana ada waktu mikirin SEO pas nulis. Yang ada mah yang penting tulisannya cepet-cepet diupload, beres. Sambil berharap yang baca ada ratusan ribu orang.

Tapi ternyata tidak begitu kata para pakar menulis online. Katanya kita harus paham setidaknya basic SEO. Untung banget, di WordPress, plugin SEO udah tersedia, jadi kita bisa menerapkan sambil belajar. Ya, kalo sekarang sih saya sedikit demi sedikit mulai menerapkan, walau gak mahir, tapi seenggaknya saya mencoba dan berupaya untuk bisa membuat Mark Zuckerberg bangga sama saya.

Tapi, perlu diingat ya, sebaik apapun penguasaan kita tentang SEO, lagi-lagi konten adalah yang paling utama, untuk menjadikan kita sebagai digital content writer idaman banyak media online dan kebanggan motivator terkenal seperti Mario Teguh juga CEO ternama Mark Zuckerberg!

5. Paham CSS dan HTML, Perlu atau Tidak, sih?

Saya sebenarnya gak tau apa sih pentingnya kita menulis langsung dengan HTML, dan bedanya dengan menulis secara manual? Bukannya yang penting adalah kita menguasai struktur tulisan dan EYD?

Tapi, dari beragam informasi yang saya baca, menulis dengan kode-kode HTML membuat tulisan kita lebih ramah sama Google. Katanya, bahasa HTML adalah bahasa yang paling mudah dipahami oleh google. Bener gak, sih?

Saya sih gak mahir banget nulis dengan tambahan kode HTML. Kalau kita pake WordPress memang disediakan dua buah pilihan, menulis secara manual atau dengan HTML. Sekarang saya mulai mencoba menulis dengan HTML. Enaknya adalah, kita bisa dengan mudah langsung menemukan kesalahan kita saat akan mengedit tulisan, jika di tulisan tersebut ada kesalahan. Kalo CSS sendiri, saya belom paham-paham banget, masih harus belajar banyak.

6. Digital Content Writer yang Oke, Juga Paham Social Media

Nah, ini dia yang mau saya ceritain. Terus terang nih, sejak saya bekerja sebagai social media specialist, saya malah males update media sosial saya sendiri. Berasa rugi banget deh. Kalo mau balik lagi update media sosial, teman saya nih, namanya Mittha, langsung komentar, “cieee…cieee, update!” Komentar kayak gini suka bikin saya minder. Gak sopan banget ituh!

Tapi saya bertekat sih untuk comeback lagi. Ya, seenggaknya Facebook dan Path saya gak mati suri gitu. Tapi saya lagi mikirin gitu cara memulai kembalinya, supaya temen saya itu, yang namanya Mittha, itu gak heboh. Apa saya delete aja dia. Atau saya block aja dia? Ada saran?

Pokoknya, menurut beberapa artikel, jika kita ingin terjun total ke dunia digital content writer, kita harus mengakrabkan diri dengan berbagai aspek yang ada di dalamnya. Termasuk social media. Karena, media sosial inilah yang kan menjadi lalu lintas konten kita kelak.

Teman, itu dia 6 faktor utama untuk menjadi digital content writer yang kece! Saya juga masih belajar untuk menerapkannya secara konsisten. Setidaknya walau perlahan, saya mencoba untuk memiliki kemajuan setiap harinya. Dan, tentunya usaha tetap diiringi doa, biar suami saya ridho, biar orangtua saya ridho, biar yang baca ridho, biar Allah SWT ridho, biar ridho Roma Irama juga cepet dibebasin dari penjara. Ini apa sih!

4 thoughts on “Menjadi Digital Content Writer yang Kece, Ini Tipsnya!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *