resistensi antibiotik
Pharmaceutical & Healthcare

ABCD Penyebab dan Bahaya Resistensi Antibiotik

Jadi tuh ya, baru-baru ini saya baru aja berjanji dalam hati saya yang mulia, kalo dalam sebulan saya pasti akan ada update tulisan tentang dunia farmasi, minimal dua artikel gituh. Tujuannya jelas, karena saya Apoteker dan saya ngeri kalo otak farmasi saya jadi tumpul, kalo gak diasah dengan ngomongin segala sesuatu yang berbau obat-obatan. Makanya butuh diupdate. Sayangnya kan saya bukan praktisi yang tiap hari mantengin obat, jadi cara saya belajar lagi ya dengan cara menulis. Itu yang saya bisa.

Yah, saya ini apalah…

Setelah timbang sana timbang sini, oprek sana oprek sini buat nyari tema, akhirnya saya pilihlah tema tentang ABCD Penyebab dan Bahaya Resistensi Antibiotik . Ish, temannya jadul banget, ya!

Kenapa saya pilih tema ini, lagi-lagi karena saya sering banget ngelihat orang yang makan antibiotik sembarangan. Bahkan di keluarga deket saya sendiri, yang namanya antibiotik diminum kayak multivitamin. Flu sedikit antibiotik, batuk antibiotik, diare antibiotik. Dikasih informasi yang bener pun kayaknya udah gak mempan, pasalnya mereka udah di tahapan tersugestikan oleh si antibiotik ini.

Untungnya, sakarang saya lihat Apoteker udah mulai bergerilya, untuk mensosialisasikan tentang cara pakai obat yang baik dan benar. Program Gema Cermat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) sudah mulai berjalan, sehingga masyarakat sudah mulai terpapar edukasi tentang obat, langsung dari Apotekernya. Sebagai Apoteker, saya bilang keren loh, melihat para Apoteker dengan sepak terjangnya turun ke masyarakat dalam rangka edukasi obat. Kalo saya mah mungkin lebih tepatnya sebagai orang yang diedukasi, bukan yang mengedukasi.

Nah, saya lihat dari banner Gema Cermat ini, banyak sekali edukasi tentang antibiotik yang udah dibuat. Nih, kita lihat bannernya, ya, sekalian bantu sosialisasi.

gema cermat 1

gema cermat 3

gema cermat 2

Sekarang saatnya kita mulai ngobrolin soal resistensi antibiotik, dan bagaimana cara aman mengonsumsi antibiotik, agar tidak menyebabkan resistensi.
Apa Itu Resistensi Antibiotik?

Pernah gak merasakan, ketika suatu saat kamu sakit dan dikasih antibiotik, kamu langsung negarasa badan enakan. Tapi, setelah berulang kali sakit, dan dikasih antibiotik yang sama, sakit kamu gak kunjung sembuh, sampe akhirnya dokter meresepkan antibiotik yang lain. Ini bisa jadi satu pertanda, antibiotik pertama itu udah resisten di tubuh kamu, sehingga tidak lagi memberikan efek terapi yang menguntungkan.

Jadi, resistensi antibiotik adalah kemampuan bakteri, untuk menahan atau melawan daya antimikroba pada antibiotik. Sederhananya yang seperti dicontohkan di atas, antibiotik yang dikonsumsi untuk mengatasi infeksi tidak lagi efektif bekerja. Antibiotik tidak mampu membunuh bakteri, menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga infeksi tak urung sembuh atau terjadi berulang kali. Nah, hampir semua organisme di muka bumi ini, memiliki kemampuan untuk mengembangkan resistensi terhadap obat-obatan.

Pertanyaannya adalah, kenapa si bakteri bisa resisten terhadap si antibiotik? Jawaban sederhananya, si bakteri ini akan belajar untuk melakukan penyesuaian atau pun beradaptasi dengan struktur dan fungsi yang ada di antibiotik tersebut, sehingga suatu saat bakteri mampu beradaptasi dengan si antibiotik, dan efektivitas antibiotik pun akan menurun. Beberapa cara bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik, juga dijelaskan dalam beragam literatur, diantaranya:

  • Bakteri dapat menetralkan antibiotik, sebelum mencapai efek terapinya
  • Bakteri yang sudah beradpatsi dengan antibiotik, akan bisa “memompa” antibiotik keluar dari sel tubuh
  • Bakteri bisa mengubah lokasi kerja atau reseptor, dimana antibiotik biasanya bekerja
  • Bakteri akan bermutasi dan kemudian mentransfer materi genetik ke bakteri lain.

Nah, dengan cara-cara yang amat tidak terpuji inilah, akhirnya si bakteri berhasil memenangkan pertarungan dengan si antibiotik, sehingga terciptalah resistensi antibiotik pada tubuh seseorang.

Apa yang Menyebabkan Terjadinya Resistensi Antibiotik?

Bagian ini penting buat diketahui nih. Demi untuk memaparkan penyebab resistensi antibiotik ini, saya rela mengurangi waktu saya untuk ngomentarin kehidupannya Ayu Ting Ting di Lambe Turah atau Lambe Nyinyir, atau stop dulu sementara nongkrongin Aceng, Dadang, Idoy dan Akung di sinetron Dunia Terbalik. Kenapa begitu? Karena saya ingin buibu, mimomi, bundbund yang baca blog ini bisa mengambil hikmahnya, dan memanfaatkan artikel ini untuk kehidupan keluarga yang lebih sehat dan bahagia. Cieeehhh….!

Alasan utama mengapa terjadi resistensi antibiotik adalah, karena penggunaan antibiotik tersebut yang nggak tepat. Nggak tepat disini paling sering disalah artikan ama masyarakat awam, hanya sebagai persoalan abis atau gak abis minum antibiotik doang. Padahal bukan cuma itu.

1. Antibiotik gak tepat indikasi
Sakit flu minum antibiotik, diare langsung minum antibiotik, batuk dikit nyari antibiotik, radang tenggorokan maunya pake antibiotik, ada yang begitu, gak? Ini yang namanya minum obat tapi gak sesuai indikasinya. Gak semua penyakit yang sering terjadi di tubuh disebabkan oleh bakteri. Bahkan, penyebab utama sakita seringkali karena virus. Dan, virus tidak akan teratasi dengan kita mengonsumsi antibiotik sebanyak apapun.

“Ah, tapi pengalaman saya mah, kalo flu minum antibiotik cepet banget sembuhnya, loh!” Ada juga loh, yang nanya begitu.

Kalo menurut saya ini udah lebih ke sugesti si pengguna aja. Misalnya dia minum antibiotik di hari ke tiga setelah flu, mungkin aja sembuhnya karena emang daya tahan tubuh dia mulai membaik, bukan dari antibiotiknya. Coba deh buktiin, saat flu, cukupin istirahat, minum air putih yang banyak, makan sayur, dan pake minyak angin di badan, sambil santai nonton serial korea, tanpa antibiotik virusnya juga ilang.

So’ hindari mengonsumsi antibiotik tanpa indikasi yang jelas. Flu, diare, batuk kebanyakan disebabkan oleh virus, dan virus gak akan musnah dengan antibiotik.

2. Pemilihan antibiotik yang kurang tepat atau tidak sesuai
Bukan tanpa alasan kenapa di dunia farmasi, antibiotik terbagi-bagi, ada yang spektrum luas ada yang sempit, ada yang digolongkan berdasarkan penyakit yang bisa diatasinya, ada yang berdasarkan mekanisme kerjanya, dll. Penggunaan yang salah, misalnya menggunakan antibiotik spektrum luas untuk penyakit tertentu, justru merugikan mikroorganisme baik yang ada di tubuh. Jika mikroorganisme baik ini terbunuh, maka tempatnya akan digantikan oleh bakteri jahat, yang tidak teratasi oleh antibiotik tersebut.

3. Aturan dan cara pakai yang tidak tepat
Oya, aturan dan cara pakai bukan cuma sekadar ngomongin berapa dosis obat yang kita konsumsi dalam sekali minum aja, loh. Tetapi juga dalam sehari minum dan untuk berapa lama penggunaan, dan bagaimana cara pakainya. Untuk mencegah resistensi antibiotik, aturan ini sangat tegas. Kepatuhan minum antibiotik menjadi salah satu cara untuk mengindari resistensi antibiotik tersebut.

Pada penggunaan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat, misalnya antibiotik tidak dihabiskan karena merasa sudah sembuh, maka bakteri yang belum terbunuh akan melakukan mutasi, sehingga suatu saat ia tidak lagi efektif dengan antibiotik yang sama.

Kadangkala, seseorang yang dirawat di rumah sakit, mendapatkan antibiotik injeksi dalam jumlah yang berlebihan, padahal pasien sudah bisa mengonsumsi antibiotik oral. Karenanya, ketika menebus antibiotik di apotek, jangan malu tanya ke Apoteker bagaimaa aturan minumnya, sehingga efektif untuk mengatasi infeksi.

4. Suka mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter
Untuk temen-temen yang kerja di apotek, pasti gak heran kalo banyak banget masyarakat yang dateng ke apotek mau beli amoksisilin, atau lincomisin, atau ciprofloksasin. Kalo ditanya, jawabannya, kemaren dikasih obat itu ama dokter, abis itu mempan, dan beli sendiri aja sekarang. Kalo di apotek gak ngasih itu obat, mereka kabur ke toko obat. Iyaloh, toko obat pun kadang banyak yang jualan antibiotik.

Emang kenapa bahaya, sih? Toh kan kalo ke dokter juga dikasih antibiotik juga. Eits, belom tentu. Dokter yang cerdas gak akan serta merta ngasih kita antibiotik tanpa indikasi yang jelas. Risikonya, kalo kita beli antibiotik sendiri, dan gak dapat informasi yang tepat dari Apotekernya langsung, akibatnya kita salah menggunakan. Ini yang menyebabkan resistensi antibiotik kerap terjadi.

Apakah bayi dan anak juga mengalami resistensi Antibiotik?
“Anak saya belum pernah lo mengonsumsi antibiotik, pasti masih pada peka antibiotik di tubuhnya!”

Lagi-lagi belom tentu. Faktanya, sebuah penelitian yang terbit di jurnal BMJ tahun 2016 menyebutkan bahwa, bakteri E Coli yang banyak ditemukan pada saat anak mengalami infeksi saluran kemih, ternyata sudah resisten terhadap beberapa jenis antibiotik.

Di negara maju, sebanyak 53% anak-anak resisten terhadap Amosisilin, 25% resisten terhadap Trimetoprim dan 8% resisten terhadap Amosisilin Klavulanat, Di negara berkembang, dampak resistensi antibiotik ini lebih dahsyat, karena hampir 80% nya anak-anak resisten terhadap Amosisilin, 60% resisten terhadap Amoksisilin Klavulanat, dan lebih dari seperempatnya resisten terhadap ciprofloksasin.
Penggunaan antibiotik yang berlebihan pada anak, dan mudahnya akses untuk mendapatkan antibiotik, adalah penyebab mengapa anak-anak berisiko mengalami resistensi antibiotik.

Baca: Mengetahui Manfaat Vaksinasi Rubella untuk Anak dan Wanita

Seberapa Berbahayanya, sih, Resistensi Antibiotik?

Saat ini, berdasarkan CDC, resistensi antibiotik sudah menjadi ancaman global. Kenapa begitu, karena resistensi antibiotik udah membuat seorang pasien bisa sakit lebih lama, harus tinggal di rumah sakit lebih lama, menggunakan antibiotik lain yang mungkin dengan efek samping lebih besar, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk berobat pun menjadi lebih banyak. Yang lebih seriusnya lagi adalah, jika tidak ada antibiotik yang efektif, maka risiko seseorang mengalami kematian pun menjadi lebih besar.

Bakteri-bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik ini, juga berisiko akan menyebar ke lingkungan sekitar kita, dan masuk ke tubuh seseorang. Hal ini menyebabkan orang tersebut tidak lagi mempan diberikan antibiotik yang spesifik untuk bakteri tersebut. Akibatnya, mereka harus mencari antibiotik lainnya, yang mungkin efek sampingnya lebih kuat. Jadi tepat donk kiranya kalo dibilang resistensi antibiotik itu adalah masalah global, bukan cuma masalah kita ama temen-temen kita dong!

Lalu, Gimana Kita Tahu Kita Butuh Antibiotik?

  • Untuk batuk dan pilek, yang bukan alergi, atau yang gejalanya berat dan berlangsung sepanjang hari, lama atau berkelanjutan sampai 10-14 hari, disertai dengan keluarnya cairan di hidung yang kental dan kuning kehijauan, biasanya batuk atau pilek ini disebabkan infeksi bakteri. Batuk dan pilek ciri khas alergi biasanya hanya berlangsung di pagi hari atau malam hari saja, tanpa menyebabkan seseorang menjadi lesu dan terlihat sakit. Pada kasus batuk alergi, antibiotik tidak dibutuhkan.
  • Pada diagnosa radang tenggorokan yang disebabkan oleh kuman streptokokus, antibiotik diperlukan. Hanya saja butuh pemeriksaan labolatorium untuk menegakan diagnosa bahwa radang tenggorokan disebabkan oleh kuman yang dimaksud.
  • Pada penyakit tipus, setelah didapatkan hasil kultur lab positif, dibutuhkan antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab penyakit tersebut.
  • Pada penyakit infeksi saluran kemih, yang gejalanya sering disertai dengan demam tinggi lebih dari 3 hari, jika diperlukan maka diambil sampel urin untuk melihat keberadaan mikroba dalam urin, baru diatasi dengan pemberian antibiotik.
  • Untuk yang memiliki masalah sinusitis, apalagi yang menyebabkan demam tinggi, nyeri dan pembekakan di wajah karena penimbunan cairan, maka antibiotik diperlukan.
  • Pada sakit saluran cerna akut, yang disebabkan oleh bakteri H. Pylori ataupun infeksi usus serius akibat E. Coli.
  • Antibiotik juga diperlukan beberapa saat sebelum dilakukan bedah atas petunjuk dokter.

Baca : Lansoprazole, Sahabatnya Penyakit Asam Lambung

Jadi, Kesimpulannya adalah?

WHO menganjurkan setiap orang untuk bijak menggunakan antibiotik, untuk mencegah resistensi antibiotik terjadi. Caranya adalah:

1. Hanya mengonsumsi antibiotik ketika diresepkan oleh dokter
2. Menghabiskan antibiotik sesuai dengan resep yang dianjurkan dokter
3. Jangan mengonsumsi antibiotik lama atau berbagi antibiotik dengan orang lain
4. Konsultasikan dengan Apoteker tentang obat-obatan apa saja yang Anda terima termasuk cara pakainya yang baik dan benar
5. Bagaimanapun mencegah infeksi lebih baik daripada mengobati, jadi selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh, agar terhindar dari penyakit infeksi apapun.

Yuk, rame-rame cegah resistensi antibiotik. Ingat, ada generasi selanjutnya yang akan terkena imbasnya, jika resistensi antibiotik dianggap sepele!

2 thoughts on “ABCD Penyebab dan Bahaya Resistensi Antibiotik”

  1. Info yang sangat bermanfaat mbak …kemarin saya kena ISK lalu di kasih dokter antibiotik .beruntung saya baca post ini .karna saya kemarin minum antibiotik nya ga teratur .jadi lebih ati2 dan menggunakan antibiotik lebih tepat . takut resistensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.